Kesadaran Manusia menurut Integrated Information Theory


Latar Belakang

Baru-baru ini saya merasa kangen dengan bahasan mengenai kesadaran manusia. Iseng-iseng saya coba mencari bahan bacaan yang paling update di Google Scholar. Saya menemukan sebuah jurnal penelitian yang judulnya menarik perhatian saya, “Consciousness: here, there, and everywhere?”, oleh Tononi & Koch (2015).

I know I am conscious: I am seeing, hearing, feeling something here, inside my own head. But, is consciousness–subjective experience–also there, not only in other people’s head, but also in the head of animals? And, perhaps everywhere, pervading the cosmos, as in old panpsychist traditions and in The Beatles’ song?

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan Tononi & Koch mengenai posisi (dimensi ruang) kesadaran manusia, seperti tertulis dalam pernyataan di atas. Mereka tahu bahwa kegelisahan tersebut tidak mungkin dijawab oleh ilmu pengetahuan “mindstream”–yang memiliki batasan logika berpikir. Mau berusaha sekeras apapun, pendekatan tersebut hampir mustahil bisa mengurai benang ruwet dalam bahasan tentang kesadaran manusia (Tononi & Koch, 2015).

The problem of explaining how matter can give rise to consciousness may forever elude us, dubbing it the hard problem–the problem may be not only hard, but also almost impossible to solve.

Akan tetapi itu tidak membuat mereka patah arang. Tononi & Koch (2015) menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam usaha memahami kesadaran manusia, dan itu menuntut kita untuk sedia mengambil sudut pandang yang berkebalikan dari pendekatan “mindstream”. Caranya dengan mengalihkan fokus pada hal-hal yang ada di dalam kesadaran itu sendiri, bukan hal-hal yang ada di luaran, berdasarkan Integrated Information Theory (IIT)

But things may be less hard if one takes the opposite approach: start from consciousness itself, by identifying its essential properties, and then ask what kinds of physical mechanisms could possibly accout for them. This is the approach taken by Integrated Information Theory (IIT).

Apa itu IIT?

Saya tidak sedang ingin menjelaskan secara panjang lebar mengenai IIT. Artikel ini saya tulis untuk menyampaikan abstraksi saya setelah membaca jurnal penelitian Kononi & Koch “Consciousness: here, there, and everywhere?” (2015). Akan tetapi, agar saya bisa sedikit membantu anda untuk tahu tentang IIT, silahkan lihat gambar di bawah ini, atau anda bisa berkunjung ke tautan ini untuk informasi lebih lanjut.


Sebelum hasil abstraksi saya dipaparkan dalam artikel ini, ada baiknya saya menyebutkan terlebih dahulu temuan-temuan dalam jurnal penelitian Kononi & Koch (2015) tersebut. Mereka mencatat ada 8 (delapan) poin temuan berdasarkan kajian IIT, yang di bawah ini saya tulis ulang sesuai bahasa aslinya tanpa deskripsi.

  1. Consciousness is a fundamental property
  2. Consciousness comes in various qualities
  3. Consciousness is adaptive
  4. Consciousness is graded
  5. Consciousness can have multiple systems
  6. Aggregates are not conscious
  7. Complicated systems can be unconscious
  8. Simulations of concious neural system can be unconscious

Secara garis besar, Tononi & Koch (2015) menemukan bahwa kesadaran manusia dapat di-analisis lewat pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Analisa dilakukan dengan memperhatikan 5 (lima) axioms (beserta postulates-nya) dari IIT, antara lain: existence, composition, information, integration, dan exclusion–yang terdapat dalam pengalaman seseorang. Idealnya, kelima axioms tersebut memiliki prinsip: essential, complete, consistent, dan independent. Analisis IIT terhadap berbagai pengalaman seseorang menjadi landasan terbentuknya core concept, conceptual structure, complex, dan quale dalam diri manusia. Semua itu terangkai menjadi sebuah mekanisme sistem yang akan mempengaruhi kondisi tertentu dari kesadaran manusia.

Abstraksi Saya

Kesadaran manusia terbentuk lewat serangkaian pengalaman pribadi yang terjadi sepanjang hidup: sejak seseorang berada dalam kandungan hingga sebelum kematian. Dari banyaknya pengalaman tersebut, semuanya tersimpan dalam memori. Akan tetapi, tidak semua memori dapat diingat kembali, dan hanya sedikit yang bisa diingat secara detil. Biasanya, kebanyakan orang hanya berhasil mengingat pengalaman-pengalaman yang mempengaruhi kehidupannya secara signifikan.

Lewat ingatan tadi seseorang membangun penghayatan pribadi terhadap berbagai pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Penghayatan pribadi itulah yang akan di-sintesis-kan menjadi kesadaran, dengan memenuhi 5 (lima) kriteria, antara lain:

  1. Subjektif. Artinya, penghayatan tersebut merupakan buah pemikiran dan perasaan seseorang dari berbagai pengalaman hidupnya yang tidak bisa lepas dari belief yang dimilikinya.
  2. Rangkaian pengalaman. Artinya, penghayatan tersebut memerlukan sejumlah pengalaman yang memiliki keterkaitan tema, dan saling memberikan pengaruh satu sama lain terhadap kehidupan seseorang.
  3. Unik. Artinya, penghayatan tersebut dilakukan terhadap pengalaman-pengalaman yang berkesan bagi seseorang, baik secara kualitas (intensitas) maupun kuantitas (frekuensi).
  4. Punya “kompleksitas” tersendiri. Artinya, penghayatan tersebut bisa mengandung kesederhanaan maupun kerumitan yang bergantung pada penilaian masing-masing orang terhadap berbagai pengalaman hidupnya.
  5. Kontekstual. Artinya, penghayatan tersebut memiliki batasan ruang dan waktu, serta batasan nilai dan norma, yang disesuaikan dengan kondisi seseorang di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berdasarkan kelima kriteria di atas, saya berasumsi bahwa kesadaran manusia (menurut IIT) bersifat permanen, sekaligus dinamis. Sifatnya permanen karena kesadaran tersebut relatif menetap dalam diri seseorang dan turut mempengaruhi setiap aspek kehidupannya. Sifatnya dinamis karena kesadaran tersebut menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di luar maupun di dalam diri seseorang sepanjang hidupnya.

Salam

    Tinggalkan Komentar

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s