Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (Asset-Based Community Development): Sebuah Refleksi Hasil Belajar

LATAR BELAKANG

Saya berkenalan dengan pendekatan ini pada tahun 2013. Kala itu saya sedang mendampingi komunitas Karang Taruna RW 07, 08, 09, dan 10 di Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari proyek jangka pendek (special project) sebuah LSM yang berfokus pada kesejahteraan anak (child well-being), yaitu Wahana Visi Indonesia–yang merupakan bagian dari NGO bernama World Vision International–disingkat WVI. Proyek ini berjangka pendek karena waktu pelaksanaannya (mulai asesmen, intervensi, hingga evaluasi) hanya 2 tahun.

Saya bukan bagian dari WVI, saya mewakili salah satu dari tiga perguruan tinggi di Surabaya (Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional) yang bermitra dengan WVI untuk mengerjakan special project tersebut. Ketiga perguruan tinggi ini memiliki fokus isunya masing-masing: Urban Farming, Anak Usia Dini, dan Anak Remaja. Saya dan tim berfokus pada isu Anak Remaja, oleh karena itu kami memilih Karang Taruna sebagai sasaran komunitas dampingan.

Pada saat kami merancang konsep pendampingan, salah satu supervisor saya (N.K.E. Triwijati) menawarkan konsep ABCD (Asset-Based Community Development) sebagai pendekatan yang akan kami gunakan selama mendampingi komunitas Karang Taruna tersebut. Konsep ABCD yang kami gunakan mengacu pada panduan yang diterbitkan oleh Program ACCESS tahap II dari Pemerintah Australia, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Panduan tersebut bisa diakses secara online dan bisa diunduh oleh siapapun.

Setelah proyek tersebut selesai di tahun 2015, saya di-rekrut menjadi salah satu relawan sebuah LSM di Surabaya yang berfokus pada isu kekerasan terhadap perempuan–Savy Amira WCC, sebagai pendamping komunitas (Community Organizing/CO). Program pendampingan komunitas baru dimunculkan oleh Savy Amira WCC pada tahun 2012, mengikuti arahan program nasional yang dinamakan Maju Perempuan Indonesia untuk Pemberantasan Kemiskinan (MAMPU), karena Savy Amira WCC termasuk salah satu anggota Forum Pengada Layanan (FPL) untuk aksi pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dalam Program MAMPU tersebut.

Komunitas yang kami dampingi, yaitu PKK RW 10 Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Kami menerapkan pendekatan ABCD yang di-modifikasi selama proses pendampingan. Modifikasi tersebut merupakan bentuk penyesuaian prinsip-prinsip dalam konsep ABCD, yang diterbitkan oleh Program ACCESS II Pemerintah Australia, terhadap kekritisan isu kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dalam perjalanannya, sasaran komunitas dampingan kami mengerucut sekaligus meluas; mengerucut pada Kader PKK dalam urusan Pos Curhat, dan meluas dari RW 10 menjadi Kelurahan Pacar Keling (saat ini muncul wacana untuk memperluas sasaran hingga tingkat Kecamatan Tambaksari). Pengerucutan dan perluasan sasaran tersebut, bisa dikatakan, merupakan salah satu dampak dari penerapan pendekatan ABCD yang di-modifikasi tadi.

Di tengah proses penerapan pendekatan ABCD yang di-modifikasi tersebut pada komunitas PKK RW 10 Pacar Keling, di akhir tahun 2015, kami dipertemukan dengan rekan-rekan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, yang ternyata juga menerapkan pendekatan ABCD dalam Program Pengabdian pada Masyarakat (PPM) di kampusnya. Awalnya, saya mengira bahwa konsep ABCD yang dijadikan acuan oleh UINSA “berkiblat” pada COADY (Kanada); dikarenakan adanya perbedaan alur dalam beberapa tahapan ABCD yang mereka terapkan selama ini. Pada pertengahan tahun 2016, mereka mengajak saya ikut serta dalam seminar & workshop tentang ABCD dalam rangka konferensi internasional bertemakan “University-Community Engagement” (UCE IC) yang diselenggarakan oleh UINSA. Keikutsertaan saya dalam UCE IC tersebut mengubah anggapan saya sebelumnya mengenai “kiblat” konsep ABCD yang diterapkan rekan-rekan UINSA; karena salah satu pemateri yang berbagi pengalamannya menggunakan pendekatan ABCD berasal dari Jeder Institute Australia (Dee Brook).

Berdasarkan pengalaman saya di atas, pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip dalam pendekatan ABCD antara ACCESS II dan COADY adalah SAMA; meskipun keduanya memiliki perbedaan dalam hal teknis. Simpulan saya mengenai prinsip-prinsip ABCD itulah yang akan saya bagikan setelah ini. Maka dari itu, ijinkan saya mencukupkan cerita latar belakang ini (artikel ini memang tidak saya buat untuk menceritakan detil pengalaman saya menerapkan pendekatan ABCD dalam pendampingan komunitas), dan mari beralih pada pemaparan prinsip-prinsip ABCD.

PRINSIP-PRINSIP ABCD

  1. Komunitas sebagai Kunci Perubahan. Sebuah perubahan bisa terjadi ketika individu maupun kelompok menyadari adanya kebutuhan untuk berubah dalam komunitasnya. Kesadaran tersebut muncul atas dasar inisiatif dari anggota komunitas, bukan dipaksakan oleh pihak di luar komunitas. Inisiatif tersebut berangkat dari perpaduan antara kegelisahan dan asa yang dimiliki anggota komunitas atas kondisi yang ada di lingkungannya. Inisiatif tersebut juga melahirkan gerakan kesukarelaan dari anggota komunitas untuk menentukan arah perubahan, dan menjalani prosesnya. Kesukarelaan yang muncul akan mendorong anggota komunitas untuk mengabdikan diri dalam pencapaian tujuan bersama, memberikan dukungan sesuai kemampuan/keterampilan/keahlian yang dimiliki masing-masing anggota, dan bekerja tanpa pamrih. Perubahan adalah dari, oleh, dan untuk komunitas.
  2. Fokus pada Potensi Komunitas. Ketika individu maupun kelompok sanggup melihat potensi yang dimilikinya, niscaya mereka akan menjadi lebih optimis dalam menyongsong masa depan. Sebaliknya, ketika mereka memberikan banyak perhatian pada masalah, pesimisme yang muncul. Akan tetapi, jika kita menafikan adanya masalah, maka kita akan jauh dari realitas. Oleh karena itu, anggota komunitas diharapkan bisa realistis sekaligus optimis; realistis bahwa masalah adalah kegelisahan yang sedang/akan dihadapi oleh komunitas, dan lewat kegelisahan itu anggota komunitas diajak untuk menciptakan asa atas kondisi lingkungan yang menjadi harapan bersama sehingga mereka bisa menjadi lebih optimis. Dalam nuansa yang penuh asa, komunitas bisa memilih fokus pada hal potensial yang sanggup dipertahankan, diperkuat, dan dikembangkan untuk mewujudkan kondisi yang lebih positif dalam kehidupan mereka.
  3. Pemetaan, Pengelolaan dan Pendayagunaan Aset. Berbicara tentang aset biasanya dikaitkan dengan modal ekonomi, akan tetapi, yang dimaksud aset dalam ABCD cakupannya lebih luas. Pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang dimiliki anggota komunitas termasuk aset (individu). Relasi-relasi yang terbangun dalam komunitas–baik antar individu, antar kelompok, maupun antara individu dan kelompok juga termasuk aset (modal sosial). Berbagai bentuk aset lainnya bisa berupa tanah/lahan, bangunan, kearifan lokal, spiritualitas, dan sebagainya; bahkan nilai-nilai seperti kepedulian, kejujuran, kepercayaan, kesetiakawanan, kebersamaan, dll juga bisa dikategorikan sebagai aset. Selama hal-hal yang terdapat di komunitas dapat didayagunakan untuk mencapai tujuan bersama, itu semua dapat disebut aset. Penting bagi anggota komunitas untuk sanggup mengenali aset-aset yang dimilikinya, sanggup menjaga/merawat setiap asetnya agar tetap dalam kondisi baik dan siap dipergunakan, serta, yang tidak kalah penting, sanggup mengarahkan dan menggerakkan aset-aset tersebut menuju suksesi kepentingan komunitasnya.
  4. Penguatan Jaringan Kerjasama. Setiap individu maupun kelompok yang berhasil pasti memerlukan dukungan dari pihak lain. Hal tersebut juga bisa diperoleh komunitas jika mereka sanggup membangun hubungan dengan pihak-pihak yang diharapkan dukungannya oleh anggota komunitas (misalnya: pemerintah). Maka, anggota komunitas perlu diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak tersebut, memahami cara mengakses dukungan tersebut dari pihak yang bersangkutan, dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Munculnya dependensi terhadap dukungan dari pihak lain menjadi satu hal yang sebisa mungkin dihindari oleh anggota komunitas; tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi ketika pihak tersebut memberikan dukungan yang tidak sesuai dengan ekspektasi, atau mereka tidak lagi memberikan dukungan kepada komunitas. Oleh karena itu, dukungan/pihak lain tersebut sebaiknya diposisikan sebagai jembatan/batu loncatan bagi komunitas agar sanggup berdaya secara mandiri; dengan kata lain, hubungan yang terbangun bersifat interdependensi.
  5. Proses yang Berkelanjutan. Hal baik (positif) yang sudah berlangsung, tentunya, diharapkan bisa terus berlanjut, sehingga bisa terus dialami dan dinikmati oleh setiap orang–bahkan oleh generasi penerus. Keberlanjutan tersebut menjadi salah satu indikator utama dari pengembangan komunitas yang berjalan dengan baik–disamping adanya kemandirian anggota komunitas, dan keterbukaan peluang bagi setiap anggota komunitas untuk berpartisipasi. Keberlanjutan memerlukan kesadaran dari anggota komunitas, bahwa proses yang sudah/akan dijalani bersama sifatnya penting bagi kehidupan mereka. Selain itu juga memerlukan komitmen dari anggota komunitas untuk membenahi hal-hal yang dianggap belum sesuai dengan harapan, mempertahankan hal-hal yang sudah sesuai harapan, dan mengembangkan hal-hal yang bisa dioptimalkan melampaui harapan.

Kelima prinsip ABCD di atas hanya simpulan dari hasil refleksi selama saya mempelajari dan menerapkan pendekatan ABCD sesuai pengalaman pribadi. Saya meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki refleksi tersendiri mengenai hal-hal yang menjadi fokus aktivitasnya masing-masing. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dalam pendekatan ABCD bisa jadi lebih/kurang dari kelima poin di atas; dan siapapun yang juga belajar tentang ABCD berhak menambahi/mengurangi, juga merumuskan prinsip-prinsip ABCD yang berbeda dengan yang saya paparkan di atas sesuai pengalaman belajarnya masing-masing. Akhir kata, semoga artikel ini memberikan kemanfaatan bagi siapa saja yang mempelajari dan/atau menerapkan pendekatan ABCD ini. Saya mohon maaf jika artikel ini belum memuaskan para pembaca, sekaligus saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan anda.

Salam

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s