Religiusitas dalam Pandangan Psikologi

Agama menjadi salah satu pranata sosial penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut nampak dari penilaian baik/buruknya perbuatan seseorang yang seringkali didasarkan pada norma agama. Jika seseorang melakukan perbuatan yang sesuai aturan-aturan agamanya, itu perbuatan baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan aturan-aturan agama, itu perbuatan buruk; bahkan kerap disebut sebagai perbuatan dosa.

Dalam psikologi agama, kondisi kerberagamaan (tingkat religiusitas) seseorang dinilai berdasarkan beberapa aspek. Allport & Ross (1967) mengemukakan ada 2 aspek tingkat religiusitas seseorang, yang berkaitan dengan motivasi keberagamaan seseorang, yaitu ekstrinsik dan intrinsik. Ketika seseorang melakukan perilaku beragama karena harapan-harapan untuk mendapatkan pahala/karma baik, atau untuk menghindari hukuman/karma buruk, itu disebut religiusitas yang ekstrinsik. Sedangkan ketika seseorang melakukan perilaku beragama karena kesadaran bahwa dirinya adalah manifestasi ke-Tuhan-an di dunia, itu disebut religiusitas yang intrinsik. Perihal yang disebut terakhir, penulis menyadari akan perlunya pembahasan yang lebih mendalam tentang ke-Tuhan-an sehingga kita dapat memperoleh pemahaman yang jelas untuk menjadi “manifestasi ke-Tuhan-an di dunia”; sayangnya hal tersebut tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Selain ekstrinsik & intrinsik, Glock & Stark (1965) mengemukakan ada 5 aspek untuk menilai tingkat religiusitas seseorang, antara lain: 1) ideological (keyakinan agama), 2) intellectual (pengetahuan agama), 3) ritualistic (praktik keagamaan), 4) experiential (pengalaman spiritual), dan 5) consequential (implementasi keagamaan dalam keseharian). Kelima aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga kita tidak bisa menilai seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi/rendah berdasarkan salah satu aspek saja. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa seseorang memiliki tingkat religiusitas yang rendah karena semata-mata dia jarang menjalankan praktik keagamaan (sholat, kebaktian minggu, sembahyang, dsb), atau bahwa seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi karena semata-mata dia memiliki pengetahuan agama yang mumpuni.

Penulis berpendapat bahwa aspek-aspek yang dipaparkan di atas tidak semestinya digunakan untuk sekedar menilai tingkat religiusitas seseorang, apalagi jika penilaian tersebut berujung pada pelabelan. Penulis memaknai religiusitas sebagai proses transformasi, dari religiusitas yang ekstrinsik menuju intrinsik. Selain itu juga sebagai proses sinkronisitas, dengan memadukan antara keyakinan agama, pengetahuan agama, praktik keagamaan, pengalaman spiritual & implementasi keagamaan dalam keseharian. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, aspek-aspek tersebut sepantasnya digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan & memberdayakan seseorang sehingga dirinya dapat mencapai kondisi religiusitas yang ideal. 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s