Meditasi VS Doa

Meditasi. Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar/membaca kata tersebut? Apakah bayangan yang muncul adalah orang sedang duduk dengan mata terpejam sambil berfokus pada satu hal? Jika kondisi itu yang terpikirkan, bermeditasi memiliki ciri-ciri sikap tubuh & pikiran yang mirip dengan berdoa, bukan? Lalu, apakah perbedaan dari bermeditasi & berdoa? Atau keduanya sama saja, hanya berbeda istilah?

Bagi saya, yang baru menghidupi meditasi sejak 2012, keduanya hanya berbeda istilah. Pemaknaan tersebut sifatnya subjektif, itu muncul sebagai hasil dari proses saya bermeditasi. Orang lain punya anggapan yang berbeda, bahwa bermeditasi & berdoa itu berbeda. Dalam meditasi, seseorang mengambil sikap pikiran yang hening, fokus pada penajaman indera untuk menangkap sensasi fisik maupun metafisik, atau fokus pada penerimaan sensasi-sensasi tersebut selama prosesnya. Sedangkan dalam doa, seseorang cenderung banyak berucap, mengungkapkan segala uneg-uneg yang dimiliki kepada Tuhan, dapat berupa harapan, kekuatiran, dan sebagainya. Jadi, mana yang benar? Apakah bermeditasi & berdoa itu sama/beda?

Saya berpendapat bahwa keduanya hanya berbeda istilah karena, meminjam pemahaman dari kebanyakan orang di atas, dalam bermeditasi saya juga berdoa & dalam berdoa saya juga bermeditasi. Dalam bermeditasi maupun berdoa, ada kalanya saya bersikap pasif (hening, mengamati, merasakan, menangkap, menerima, dll), juga ada kalanya saya bersikap aktif (berbicara, meminta, memohon, dll). Baik meditasi/doa, proses yang terjadi adalah bentuk komunikasi, antara diri & diri, juga antara diri & Tuhan, bahkan antara diri & ciptaan lain.

Menurut pemahaman anda, bagaimana komunikasi itu berlangsung? Ada pembicara & pendengar, serta ada pesannya, bukan? Selain itu juga ada pergantian peran (pembicara jadi pendengar & pendengar jadi pembicara), dan pertukaran informasi, bukan? Dari beberapa hal di atas, hal apa yang paling penting dari komunikasi? Menurut saya, pesan. Ada komunikasi karena ada pesan, yang mau disampaikan/didengarkan. Lalu, bagaimana caranya pesan tersebut dapat tersampaikan/terdengar? Dari pengalaman saya, fleksibilitas dalam bersikap adalah kuncinya, menyadari kapan bersikap aktif (berbicara & menyampaikan), dan kapan bersikap pasif (diam & mendengarkan). Sekian.

Salam,
Adi Sujatmika

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s