Dalam Getir Kehidupan Selalu Terselip Pengalaman Manis

Tahun 2014 sudah berjalan 7 bulan, dan dalam beberapa minggu akan memasuki bulan ke-8. Berbeda dari 2 tahun sebelumnya, hal-hal yang aku alami pada tahun ini cukup membuatku stress. Ada 2 hal besar; pertama, masalah finansial, dan kedua, masalah perkuliahan. Dua masalah yang sebelumnya tidak pernah membuatku stress.

Masalah finansial yang aku alami sekarang berawal dari keputusanku untuk berhenti dari pekerjaan yang sudah aku geluti selama 9 tahun–sejak tahun 2005, yaitu pekerjaan dalam dunia pelatihan (seringnya berbentuk outbound training). Alasannya, agar aku bisa fokus untuk menyelesaikan studi–yang semester ini hanya tersisa tugas akhir (tesis); ironisnya, yang menjadi alasanku untuk berhenti bekerja juga mendatangkan persoalan tersendiri. Ketika aku memutuskan untuk berhenti bekerja, aku pun tidak lagi memiliki penghasilan–yang selama ini aku gunakan untuk membayar beberapa tanggungan pribadiku. Sesungguhnya, untuk mengantisipasi terjadinya hubungan sebab-akibat itu–jika tidak bekerja, tidak ada penghasilan, aku berencana untuk mencari sumber penghasilan lain dengan menerima tawaran proyek penelitian & pengabdian pada masyarakat dari dosen-dosen kampusku. Rencana itu sedang aku lakukan tetapi realisasinya tidak sepenuhnya seperti yang aku rencanakan; ada proyek-proyek yang pencairan honornya baru dilakukan beberapa bulan setelah proyek tersebut dilakukan, ada juga proyek yang masih dalam masa tunggu–menunggu keputusan dari pihak pertama.

Ketika aku menjadikan studi sebagai alasan untuk berhenti bekerja, alasan tersebut juga mendatangkan persoalan tersendiri. Awalnya aku berencana untuk menyelesaikan studiku–yang hanya tersisa tugas akhir (tesis)–di semester ini tetapi, karena ada persoalan terkait setting penelitian, aku harus memperpanjang masa pengerjaan tugas akhir menjadi 2 semester; dengan kata lain, studiku baru selesai semester depan. Sebelum aku menghadapi hal tersebut, ada persoalan lain yang juga aku alami; aku harus mengganti topik penelitian, yang semula aku ingin meneliti tentang psikologi transpersonal, sekarang aku meneliti tentang kehidupan multikultur. Alhasil, aku harus melakukan beberapa kali pengambilan data ulang dengan setting penelitian yang berbeda; selain itu, aku juga harus membaca beragam sumber pustaka yang baru ketika berganti topil penelitian, sekaligus harus menulis proposal penelitian sesuai topik dan data baru yang aku temukan di lapangan.

Namun 2014 tidak hanya menjadi tahun yang membuatku stress, tahun ini aku juga merasakan kebahagiaan karena, akhirnya, aku memiliki pasangan hidup. Itu merupakan salah satu harapanku yang tak kunjung terkabul sebelum 2014. Meskipun aku sudah berusaha mendekati beberapa perempuan yang aku sukai, tidak ada satu pun yang mau menerima niatku untuk menjadikan dia pasangan hidupku–dengan kata lain, aku ditolak oleh setiap perempuan yang aku dekati. Penolakan tersebut sampai membuatku merasa apatis dengan harapanku sendiri. Syukurlah harapanku terkabul tahun ini, 2014.

Kesimpulannya.. dalam pengalaman pahit yang tidak sesuai harapan dan mendatangkan stress, ada pengalaman manis yang menetralisir getirnya. Sungguh.. Allah selalu menyediakan keseimbangan dalam hidup ciptaan-Nya. Syukur kepada Allah. Namaste.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s