Berbagi Pemahaman dan Pengalaman “Spiritual Rebirth” (Empat Pertanda “Spiritual Rebirth”)

Bagi umat nasrani, istilah “spiritual rebirth” (seharusnya) sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka; istilah yang seringkali dipakai dalam iman kristen adalah “lahir baru”. Rasul Paulus menekankan agar setiap orang yang hidup dalam iman kristen mengalami perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru (Efesus 4 : 20-24).

Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Namun demikian, “spiritual rebirth” bukan milik umat nasrani saja, istilah tersebut juga dikenal dalam ajaran Buddha; dan sangat mungkin untuk dialami oleh seluruh insan manusia yang hidup & menyadari bahwa dirinya adalah mahkluk spiritual yang berada dalam tubuh fisik. Dalam ajaran Buddha, “spiritual rebirth” merupakan bagian dari Sangharakshita; berada pada tahap keempat yang berkaitan erat dengan proses pada tahap ketiga (The Stage of Spiritual Death). Sangharakshita adalah salah satu metode yang digunakan oleh umat Buddha untuk mencapai self-realization, dimana “spiritual rebirth” adalah satu-satunya jalan yang harus dilalui untuk mencapai kondisi tersebut.

 

Ketika saya menuliskan bahwa “spiritual rebirth” sangat mungkin untuk dialami oleh seluruh insan manusia yang hidup & menyadari bahwa dirinya adalah mahkluk spiritual yang berada dalam tubuh fisik, saya berlandaskan pada pengalaman banyak orang yang tidak terlalu fokus pada kehidupan beragama namun sanggup mengalami “spiritual rebirth“. Dari penuturan orang-orang tersebut, ada benang merah yang menyatukan pengalaman-pengalaman mereka; bahwa dalam kehidupan, manusia tidak hanya bersinggungan dengan hal-hal fisik–yang terobservasi oleh kelima panca indera, yang terukur (ter-kuantifikasi-kan), yang terlogika secara linear & rasional (melalui pembuktian “ilmiah”), dan kriteria-kriteria lain yang dilekatkan pada hal-hal fisik tersebut–ada realitas-realitas non-fisik yang secara sadar/tidak sadar juga bersinggungan dengan kita, dimana kriteria-kriterianya seringkali bertolak belakang dengan kriteria-kriteria dari realitas fisik sehingga dianggap tidak ada/nyata yang kemudian diabaikan/ditolak eksistensinya. Kesadaran akan adanya realitas non-fisik yang bersinggungan dengan realitas fisik itulah yang menjadi titik balik dari orang-orang tersebut dan menghantarkan mereka pada proses “spiritual rebirth“. Dengan kata lain, “spiritual rebirth” bukan milik orang-orang yang fokus pada kehidupan beragama/orang-orang yang beragama saja, selama kita menyadari eksistensi realitas lain di luar realitas fisik (karena saya menggunakan istilah “realitas non-fisik”, tidak berarti istilah tersebut sudah tepat jika digunakan untuk menyebut realitas lain di luar realitas fisik, anda sangat boleh menggunakan istilah lain yang lebih sesuai).

 

Melalui penggalian informasi dari berbagai konteks dan konten, juga melalui pengalaman pribadi & pengalaman dari orang-orang yang telah/sedang mengalami “spiritual rebirth“, saya merumuskan beberapa hal yang menjadi pertanda ketika kita memasuki proses “spiritual rebirth“. Pertanda pertama sudah saya sampaikan secara tersirat di paragraf sebelumnya, yaitu adanya kesadaran tentang realitas lain di luar realitas fisik yang secara alamiah bersinggungan satu sama lain; tahap ini dapat termanifestasi dalam kondisi dimana kita menjadi semakin sadar akan pentingnya mengembangkan kualitas relasi kita dengan Tuhan (atau istilah lain yang biasa anda lekatkan dengan sosok “Sang Maha Segalanya”); manifestasi lainnya, secara sederhana, kita akan menjalani kehidupan dengan pengharapan sekaligus menerima ke-apa ada-an yang kita miliki dengan ungkapan syukur & kepasrahan (berserah diri kepada Tuhan). Pertanda kedua biasanya kita alami secara sadar/tidak sadar (namun akan lebih berguna jika kita makin menyadari pengalaman ini), adanya penyesuaian paradigma antara yang “baru” dengan yang kita pahami/yakini selama ini; paradigma “baru” tersebut bisa benar-benar baru atau paradigma “lama” yang selama ini kita abaikan karena belum ditemukan relevansinya (tidak banyak orang yang menjalani paradigma tersebut sehingga kita cenderung untuk mengikuti arus “normal” dan meninggalkan yang “tidak normal” agar dianggap “normal” meskipun yang “tidak normal” tersebut sebenarnya pernah/sudah kita alami sendiri), misalnya paradigma tentang “unconditional love” (cinta tanpa syarat; sederhananya, cinta tanpa pamrih, kita memberi tanpa berharap untuk menerima balasan yang setimpal atau yang kurang/lebih). Saya menyarankan agar penyesuaian paradigma tersebut dialami secara sadar karena dua hal: pertama, kita perlu mengetahui esensi dari paradigma “baru” tersebut (tergambarkan oleh pertanyaan: apa sih paradigma “baru” tersebut?), dan kedua, kita perlu mengetahui fungsinya (tergambarkan oleh pertanyaan: untuk apa sih paradigma “baru” tersebut?); kesadaran akan esensi dan fungsi dari paradigma “baru” dapat membantu kita untuk menghadapi kondisi yang terjadi dalam proses penyesuaian paradigma. Kondisi tersebut menjadi pertanda ketiga, adanya “keragu-raguan”, “kebingungan”, “kegelisahan”, dan simptom-simptom lainnya yang membuat kita tertekan (stress) karena kita diperhadapkan pada pilihan untuk tetap hidup secara “normal” atau mengikuti jalan yang “tidak normal”, dan juga (berdasarkan pengalaman pribadi) usaha untuk berjalan dalam keselarasan antara yang “normal” & “tidak normal”. Lalu, pertanda keempat nampak dari adanya dorongan untuk menemukan “kebenaran” (yang kemudian berlanjut dengan usaha untuk menyampaikannya pada orang lain agar mereka juga mendapatkan pencerahan dari kebenaran tersebut dan/atau mempergunakan kebenaran tersebut sebagai batu loncatan agar kita mengalami perkembangan spiritual pribadi).

 

Sekian tulisan dari saya, semoga bermanfaat. Namaste _/\_

 

PS: Keempat pertanda di atas tidak berjalan secara linear (bukan suatu hierarki atau tahapan), dan tidak terbatas pada keempat pertanda itu saja (karena pengalaman pribadi saya dan orang-orang yang membagikan pengalaman masing-masing kepada saya masih berkutat pada empat pertanda tersebut, dan/atau ada kemungkinan saya keliru dalam merumuskan pengalaman-pengalaman tersebut menjadi empat pertanda di atas).

 

Sumber: http://ciptarasakarya.wordpress.com/2013/10/27/berbagi-pemahaman-dan-pengalaman-spiritual-rebirth-empat-pertanda-spiritual-rebirth/

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s