Usaha Me-review Psikologi Transpersonal

Psikologi. Secara etimologi, istilah “psikologi” berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata psyche dan logos. Kata psyche berarti jiwa, sedangkan logos berarti ilmu, sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa, khususnya manusia. Dalam tubuh psikologi terdapat beberapa perspektif yang berkembang untuk menjelaskan jiwa manusia. Secara sederhana, perspektif utama dalam psikologi, antara lain: psikoanalisa, behavioristik, humanistik, dan transpersonal. Perspektif psikoanalisa menekankan pada pentingnya alam kesadaran dan ketaksadaran manusia yang melandasi seseorang dalam berperilaku tertentu; perspektif behavioristik menekankan pada pentingnya proses belajar yang dialami oleh manusia sepanjang hidup yang termanifestasi dalam perilaku-perilaku yang nampak; perspektif humanistik menekankan pada pentingnya pengenalan kebutuhan-kebutuhan mendasar yang memotivasi seseorang untuk berperilaku tertentu dan pemberdayaan potensi-potensi yang dimiliki olehnya; sedangkan perspektif transpersonal menekankan pada pentingnya kesadaran transendental dalam mempengaruhi seseorang untuk berperilaku tertentu, perspektif ini berkaitan erat dengan faktor spiritual. Perspektif-perspektif tersebut muncul untuk mengisi kekosongan yang ada pada perspektif terdahulu; perspektif behavioristik muncul untuk mengisi kekosongan dari psikoanalisa (psikoanalisa dianggap terlalu abstrak dalam menjelaskan jiwa manusia karena bentuk dari kesadaran dan ketaksadaran manusia tak kasat mata, maka behavioristik menawarkan penjelasan tentang jiwa manusia melalui observasi terhadap perilaku-perilaku yang nampak), perspektif humanistik muncul untuk mengisi kekosongan dari behavioristik (behavioristik dianggap terlalu kaku dalam menjelaskan jiwa manusia karena proses belajar yang menjadi landasan berpikir perspektif ini terkesan mengibaratkan manusia seperti robot yang mudah terprogram, maka humanistik menawarkan pendekatan yang menitikberatkan pada keberfungsian jiwa manusia untuk berdaya, secara positif dan optimal), kemudian perspektif transpersonal muncul untuk mengisi kekosongan dari humanistik (humanistik dianggap tidak mampu menjelaskan fenomena-fenomena dimana motivasi seseorang untuk berperilaku tertentu tidak didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan mendasar, melainkan didorong oleh intuisi, dan faktor spiritual lainnya).

Dalam perspektif psikologi transpersonal, jiwa manusia dipandang sebagai kesatuan antara pikiran (mind), tubuh (body), kesadaran (soul), dan roh (spirit). Tiga dimensi pertama (mind, body & soul) telah menjadi fokus utama dari tiga perspektif yang berkembang sebelum kemunculkan psikologi transpersonal (psikoanalisa, behavioristik & humanistik) sedangkan spirit menjadi dimensi yang berusaha di-eksplorasi oleh para tokoh psikologi transpersonal, karena keberadaannya yang terkesan diabaikan selama ini namun memiliki pengaruh yang besar terhadap tiga dimensi lainnya. Dimensi spirit yang dimaksud berkaitan dengan hal-hal yang metafisik, teori kuantum, dan seringkali terkandung unsur-unsur mistik (gaib) di dalamnya; sehingga banyak bahasan dalam perspektif transpersonal yang dikategorikan sebagai pseudoscience. Namun, seperti yang saya ungkapkan di awal paragraf ini, fokus penting dari perspektif transpersonal adalah kesatuan antara mind, body, soul & spirit; agar dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai jiwa manusia, para peneliti dan praktisi di bidang psikologi perlu memahami kondisi masing-masing dimensi dan pola interaksi di antara keempat dimensi tersebut. Salah satu sumbangsih perspektif transpersonal dalam dunia psikologi adalah metode-metode terapi yang, secara sederhana, bertujuan untuk membantu penyatuan keempat dimensi tersebut sehingga seseorang mampu mencapai kondisi keutuhan diri (integrated-self); yang diasumsikan bahwa, ketika seseorang berada pada kondisi terintegrasi, dirinya lebih mampu untuk mengembangkan potensi-potensi di dalam dirinya tanpa terjebak pada “kesalahan pemrograman jiwa” seperti luka batin (dalam perspektif psikoanalisa; adanya unfinished business pada masa lalu yang tertanam dalam alam bawah sadar), perilaku maladaptif (dalam perspektif behariostik; adanya “kesalahan” dalam proses belajar), harapan yang tidak realistis (dalam perspektif humanistik; adanya kebutuhan-kebutuhan “anomali” yang menjadi dasar motivasi dalam berperilaku), dan lain sebagainya.

Jika penulisan pada paragraf sebelumnya terlalu abstrak dan “tinggi”/”berat”, mari saya jelaskan secara lebih sederhana. Hal terpenting dalam perspektif transpersonal adalah pengenalan diri yang menyeluruh (komprehensif) dan utuh (holistik). Pengenalan diri yang menyeluruh berarti pengenalan akan kecenderungan pemikiran, perasaan, dan perilaku yang seringkali kita munculkan dalam hidup keseharian; pengenalan ini membutuhkan proses refleksi yang mendalam tentang “siapa aku?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan. Sedangkan pengenalan diri yang utuh berarti pengenalan atas keterkaitan/pola interaksi antara kecenderungan pemikiran, perasaan, dan perilaku yang seringkali termanifestasi dalam pengalaman, peristiwa, dan fenomena yang terjadi dalam hidup keseharian. Ketika kita sudah memperoleh pengenalan diri yang menyeluruh dan utuh, menurut pengalaman pribadi, kita akan mengalami fenomena yang, salah satunya, sering disebut “pencerahan”; perjalanan hidup kita akan banyak dituntun oleh pencerahan demi pencerahan yang kita alami dalam hidup keseharian; pada titik inilah kita dianggap telah mencapai kondisi transpersonal. Namun, pencapaian kondisi transpersonal bukan tujuan akhir dari perspektif ini, justru pencapaian kondisi transpersonal merupakan awal untuk proses evolusi jiwa manusia. Sekian.

PS: Tulisan ini masih difokuskan pada aspek intrapersonal, belum membahas aspek interpersonal, ecosystem, dan “ke-Tuhan-an“.

Berkah Dalem Gusti _/\_

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s