Sekilas Tentang Manfaat Lucid Dreaming (Based on My Experience)

Jika pembaca mengikuti tulisanku sejak April hingga Juli, aku banyak menulis tentang cinta, atau lebih tepatnya aku sedang jatuh cinta. Kemudian aku “cuti” menulis hingga tulisan ini terbit, kurang lebih satu bulan. Masa vacuum itu bukan dipengaruhi oleh kegagalanku dalam menjalin relasi romantis (ya, semua ungkapan perasaan yang aku tuliskan dalam kurun waktu empat bulan sebelumnya dan usahaku untuk mendekati pujaan hati tidak ada yang berhasil, hahaha) namun lebih dikarenakan oleh pergeseran fokus dalam fase kehidupanku. Pada bulan Agustus hingga sekarang, aku sedang berkutat dengan mimpi, lebih spesifiknya, aku berlatih untuk mengalami lucid dreaming.

Dalam tulisan kali ini aku tidak akan membahas apa itu lucid dreaming dan bagaimana melatih agar kita bisa mengalami keadaan tersebut, aku hanya berbagi pengalaman yang terjadi selama aku belajar tentang lucid dreaming. Singkat cerita, semenjak aku mengalami lucid dreaming, satu kesadaran “baru” hadir dalam diriku, yaitu bahwa setiap malam aku bermimpi. Pengalamanku itu sekaligus melegitimasi kebenaran dalam sebuah literatur yang pernah aku baca (maaf, aku lupa judul buku dan pengarangnya) yang mengungkapkan hal serupa–pada dasarnya semua manusia selalu bermimpi tiap malam namun hanya sebagian kecil yang menyadari (ingat) pengalaman mimpinya. Meskipun aku telah menyadari hal tersebut, aku masih belum benar-benar mampu “sadar” dalam setiap mimpiku; aku hanya menyadari bahwa aku bermimpi namun aku belum mampu “mengendalikan” apa yang aku lakukan di dalam mimpi tersebut. Menurut para praktisi lucid dreaming, idealnya, kita akan mampu “mengendalikan” tindakan-tindakan (termasuk respon terhadap stimulus yang hadir) kita di dalam mimpi. Bahkan, melalui mimpi tersebut kita mampu berefleksi dan mengimplementasikan hasil refleksinya ke dalam “dunia nyata”–saat kita terbangun dan menjalani aktivitas keseharian. Jika kita mampu “mengendalikan” diri di alam mimpi, tentu kita juga dimampukan untuk “mengendalikan” diri di alam bangun. Apa yang aku maksudkan dari kata “mengendalikan” adalah menjadi sadar atas seluruh aspek kedirian–pikiran, perasaan, dan perilaku.

Sekian dulu tulisanku, semoga rasa malas tidak menghalangi niat untuk menulis tentang apa itu lucid dreaming dan bagaimana caranya kita bisa mengalami hal tersebut (hehehehe). Terima kasih.

Namaste _/\_

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s