Dear Diary [Minggu, 21 Juli 2013. Pukul 04:15 WIB]

Jika ada yang mengikuti tulisan-tulisanku, nampak sekali bahwa beberapa bulan lalu aku sedang dilanda rasa kasmaran, tepatnya selama pertengahan Maret hingga akhir Mei. Sayang sekali, tak ada satupun relasi romantik yang berhasil dipertahankan; dan yang lebih mengenaskan, aku merasa gagal dalam urusan asmara. Rasa gagal tersebut sampai membuatku tidak berani untuk merasa kasmaran lagi, paling tidak dalam waktu dekat ini. Kalau aku renungkan, kegagalan tersebut membuatku trauma dengan urusan asmara sehingga aku benar-benar merepresi setiap rasa kasmaran yang muncul ketika bertemu/dekat dengan perempuan. Bahkan kondisi trauma tersebut cocok dengan beberapa baris lagu “A Thousand Years” yang dilantunkan oleh Christina Perry.

How to be brave? How can I love when I’m affraid to fall?

Sebenarnya, selama bulan Juni lalu, aku sedang dekat dengan seorang perempuan. Awal pertemuan kami terjadi jauh sebelum kami menjadi dekat, sekitar akhir April; meskipun, sebelum pertemuan itu, aku sempat mengetahuinya dari beberapa teman kampus yang suka menggodanya. Kedekatan kami bermula dari permintaan seorang teman kepadaku untuk membantu temannya (yang adalah perempuan itu) dalam mengerjakan proposal penelitian skripsi. Oleh karena itu, sedari awal kedekatanku dengannya, aku berusaha memposisikan diri sebagai teman diskusinya; aku juga berusaha menjaga motivasi awalku, yaitu untuk membantu pengerjaan proposal penelitian skripsinya. Namun harus aku akui, dalam relasi tersebut, beberapa kali aku merasa tertarik padanya; meski pada akhirnya aku memilih untuk merepresi rasa itu, karena aku masih tidak berani untuk gagal lagi dalam urusan asmara. Jadilah relasi kami yang hanya sebatas pertemanan; tapi beberapa minggu terakhir aku merasa kedekatan kami pun mulai berkurang, tidak ada lagi komunikasi “fisik” yang intens, yang sempat berlangsung sejak awal Juni hingga menjelang minggu akhir bulan Juli.

Sejujurnya, ada rasa kehilangan akibat berkurangnya intensitas komunikasi kami. Ada rasa penasaran untuk mengetahui keadaannya. Ada rasa peduli untuk selalu ada baginya ketika dia membutuhkan. Ada rasa excited ketika kami berbicara dan saling berbagi pemahaman dan pengalaman. Dan, ada harapan agar aku bisa menjadi “yang tercinta” baginya.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s