Perkembangan Penelitian-Penelitian Interdisipliner Mengenai Kesadaran Manusia

PERKEMBANGAN PENELITIAN-PENELITIAN INTERDISIPLINER MENGENAI KESADARAN MANUSIA

Selain psikologi, kesadaran manusia juga menjadi objek kajian penelitian dalam cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti neuroscience, neurocognitive, fisika, dan matematika. Dalam neuroscience, kesadaran manusia dikaitkan dengan hubungan antar synaps dalam jaringan otak manusia dan beberapa bagian otak yang memiliki pengaruh terhadap emosi, self-awareness, dan lain sebagianya. Dalam neurocognitive, kesadaran manusia dikaitkan dengan proses kognitif seperti atensi, memori, penginderaan, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam fisika dan matematika, kesadaran manusia dikaitkan dengan temuan-temuan mengenai hukum-hukum dan rumus-rumus logaritma yang berusaha menjelaskan fenomena-fenomena dalam alam semesta, yang kemudian melahirkan perspektif terkini pada kedua bidang ilmu pengetahuan tersebut—yang disebut sebagai fisika dan matematika kuantum.

Sebuah penelitian dalam neuroscience menemukan bahwa bagian otak left prefrontal lobe berfungsi mengatur self-awareness manusia; self-awareness terkait erat dengan kemampuan seseorang untuk melakukan refleksi diri; kerusakan pada bagian otak left prefrontal lobe mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang dalam melakukan refleksi diri (Morrin, 2005). Penelitian lain menemukan bahwa pada kondisi meditatif, gelombang otak manusia berada pada rentang alpha dan tetha, serta bagian otak yang aktif adalah left-sided anterior lobe; banyak pelaku meditasi mengalami transcendental awareness dimana mereka seringkali menemukan pencerahan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup mereka (Kabat-Zinn, 2003). Sebagai cabang dari neuroscience, neurocognitive menekankan pada keterkaitan antara sistematika kognitif—yang berkaitan dengan proses learning, dan kesadaran manusia; neurocognitive meyakini bahwa kesadaran manusia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya intensitas proses learning yang dialami. Salah satu hasil penelitian neurocognitive menemukan bahwa atensi merupakan bagian terpenting dari proses learning yang berujung pada terbentuknya kesadaran manusia (Grossberg, 1998). Penelitian lain menemukan hal yang berbeda bahwa atensi tidak berkorelasi secara signifikan terhadap terbentuknya kesadaran manusia, dengan kata lain, kesadaran manusia dapat terbentuk tanpa adanya atensi pada proses learning (Koch & Tsuchiya, 2006); hal tersebut dibuktikan dari fenomena subliminal conditioning, dimana sebuah pesan terselubung (sedapat mungkin tidak mendapatkan atensi dari individu) berusaha dimasukkan ke dalam area unconscious agar menjadi belief sehingga dapat menghasilkan perubahan perilaku tertentu. Namun dari kedua penelitian yang berbeda tersebut ada sebuah benang merah, yaitu kesadaran manusia diperoleh melalui proses learning (kognitif).

Bidang ilmu pengetahuan pasti, seperti fisika dan matematika, pun berusaha mengkaitkan hasil temuannya dalam bidang masing-masing dengan kesadaran manusia; hal tersebut diawali oleh temuan tentang hukum fisika kuantum. Setelah hukum fisika kuantum digunakan—menggantikan hukum fisik tradisional—untuk menjelaskan beragam fenomena dalam alam semesta, pemikiran-pemikiran yang melampaui hukum fisika kuantum mulai bermunculan, beberapa di antaranya disebut stochastic electrodynamic (SED) dan quantum interconnectedness. Joachim Keppler (2012) mengadakan sebuah penelitian yang menggabungkan ilmu fisika (SED), neurophysiology, dan filosofi timur dalam menjelaskan kesadaran manusaia. Dalam konsep SED, materi terbentuk karena zero-point field (ZPF) menerima radiasi pencahayaan; ketika konsep tersebut dikaitkan dengan filosofi timur, maka kesadaran manusia terbentuk ketika “kekosongan”—dapat diartikan sebagai area unconscious—mendapatkan paparan informasi; pembentukan kesadaran manusia tersebut diyakini terjadi di dalam proses kognitif (otak) yang memiliki pengaruh tertentu terhadap kondisi fisiologis individu—di sinilah letak keterkaitannya dengan neurophysiology. Russel Targ (2009) membukukan hasil temuan penelitian yang berbeda; dengan berlandaskan pada sebuah konsep fisika yang disebut sebagai quantum interconnectedness, Targ menguji keterkaitan antara kesadaran manusia dengan kesadaran universal. Konsep mengenai quantum interconnectedness ini terinspirasi dari hasil temuan penelitian yang dilakukan oleh Einstein, Podolsky, dan Rosen (EPR), “dua kuanta cahaya, yang dilepaskan dari satu sumber dan melaju dengan kecepatan cahaya dalam arah yang berlawanan, dapat mempertahankan hubungan mereka satu sama lain”. Penerapan hasil temuan ERP dalam penelitian quantum interconnectedness dan kesadaran manusia dilakukan dengan menguji kemampuan individu dalam melakukan remote-viewing—salah satu manifestasi dari fungsi extra sensory percepetion (ESP) yang secara alamiah dimiliki oleh manusia, yaitu kemampuan individu untuk melihat sebuah objek pada jarak tertentu (yang tidak mungkin terlihat dengan metode penginderaan normal, bisa karena jaraknya sangat jauh atau tertutup rapat oleh objek lain) tanpa secara langsung bersinggungan dengan objek tersebut. Targ melakukan penelitian tersebut sejak tahun 70-an hingga sekarang; hasil temuan penelitian Targ dkk membuktikan bahwa individu-individu yang menjadi partisipan penelitiannya mampu merepresentasikan objek dengan jarak yang sangat jauh atau yang tertutup oleh objek lain secara tepat, dalam pikiran mereka, dengan tingkat akurasi sebesar 80-90% (Targ, 2009). Seperti halnya dua kuanta cahaya yang dapat mempertahankan keterkaitannya dengan cara mempertahankan hubungan di antara keduanya, kesadaran manusia dan kesadaran universal juga dapat terkait ketika manusia mampu memberikan dan mempertahankan fokus terhadap kesadaran universal; itulah kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Targ dkk.

REFERENSI

Davidson, R. J., Kabat-Zinn, J., Schumacher, J., Rosenkranz, M., Muller, D., Santorelli, S. F., … & Sheridan, J. F. (2003). Alterations in brain and immune function produced by mindfulness meditation. Psychosomatic medicine, 65(4), 564-570.

Grossberg, S. (1999). The link between brain learning, attention, and consciousness. Consciousness and cognition, 8(1), 1-44.

Keppler, J. (2012). A conceptual framework for consciousness based on a deep understanding of matter. Philos. Study, 2, 689-703.

Koch, C., & Tsuchiya, N. (2007). Attention and consciousness: two distinct brain processes. Trends in cognitive sciences, 11(1), 16-22.

Morin, A. (2005). Possible links between self-awareness and inner speech theoretical background, underlying mechanisms, and empirical evidence. Journal of Consciousness Studies, 12(4-5), 4-5.

Targ, R. (2009). Limitless Mind: A Guide to Remote Viewing and Transformation of Consciousness: New World Library.

SUMBER

http://ciptarasakarya.wordpress.com/2013/07/06/perkembangan-penelitian-penelitian-interdisipliner-mengenai-kesadaran-manusia/

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s