Kesadaran Manusia Dalam Perspektif Psikologi

PENGANTAR

Hingga saat ini belum ada konsensus yang mampu menyatukan temuan/gagasan tentang kesadaran manusia. Kompleksitas kesadaran manusia secara implisit nampak dari banyaknya bidang ilmu pengetahuan yang berusaha mengkaji hal tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul banyak penelitian dalam bidang neuroscience yang mencari benang merah antara struktur & kinerja otak dengan kesadaran manusia. Hal yang sama juga terjadi dalam bidang psikologi terapan, dengan banyak bermunculannya terapi-terapi kesadaran untuk mengatasi beberapa permasalahan yang dihadapi oleh individu, salah satu contohnya adalah terapi MBSR (Mindfulness Based Stress Reduction), yang digagas oleh Jon Kabat-Zinn (1983), yang terbukti efektif untuk mereduksi stress yang dialami oleh para penderita penyakit kronis. Contoh lainnya adalah penggunaan metode NLP atau hipnoterapi untuk menyentuh keyakinan diri yang keliru, yang tertanam di dalam alam bawah sadar individu, agar diubah menjadi lebih tepat sehingga individu tersebut dapat menjadi pribadi yang lebih berdaya-guna dengan segala potensi yang dimilikinya. Dalam bidang sains psikologi juga terjadi hal serupa, dengan munculnya beberapa skala psikometrik yang ditujukan agar pengukuran tingkat kesadaran individu bisa lebih diterima secara empiris, salah satu contohnya adalah Consciousness Quotient Inventory (CQ-i), yang digagas oleh Ovidiu Brazdau (2009), yang berguna untuk menilai tinggi-rendahnya kemampuan individu dalam mengakses dan memproses informasi/stimulus yang ada di sekitarnya dalam hidup keseharian. Dari fenomena di atas dapat ditarik sebuah makna positif dari belum adanya konsensus mengenai kesadaran manusia dan asal muasalnya, yaitu bahwa penelitian-penelitian yang berkaitan dengan kesadaran manusia akan lebih banyak dilakukan dalam bidang ilmu pengetahuan yang beragam. Melalui keragaman hasil penelitian tersebut diharapkan, pada akhirnya, akan ditemukan sebuah konsensus tentang kesadaran manusia yang valid, reliabel, komprehensif, dan holistik; dimana pengetahuan tersebut menjadi sangat berguna untuk digunakan dalam men-asesmen, mengintervensi, atau—yang paling sederhana—menuntun/mengarahkan proses perkembangan diri individu.

KESADARAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Pada bagian ini saya akan membahas kesadaran manusia dalam perspektif psikologi—secara khusus, psikologi transpersonal. Di dalam psikologi terdapat empat perspektif besar yang digunakan untuk memahami kesadaran manusia, antara lain: psikoanalisa, behavioristik, humanistik, dan transpersonal. Psikoanalisa membagi kesadaran manusia menjadi tiga area, yaitu sadar (conscious), pra-sadar (pre-conscious/subconscious), dan tak sadar (unconscious), dimana di dalam area kesadaran tersebut beroperasi tiga struktur kepribadian: id (yang menggunakan prinsip pleasure-based), ego (yang menggunakan prinsip reality-based), dan super-ego (yang menggunakan prinsip value-based). Dalam psikoanalisa, kesadaran manusia yang sesungguhnya diwakili oleh area unconscious karena menggunakan porsi terbesar pada keseluruhan area kesadaran manusia (diperkirakan 80% area kesadaran manusia merupakan unconscious). Perilaku-perilaku abnormal manusia dianggap sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dari ego (yang menempati area conscious) yang menegosiasi pertentangan antara id dan super-ego (yang menempati area subconscious dan unconscious); yang sifatnya impulsif dan neurotis. Karena kesadaran manusia yang sesungguhnya terwakili oleh area unconscious, mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh ego dapat diartikan sebagai bentuk pengingkaran kesejatian diri manusia. Berbeda dengan psikoanalisa, behavioristik memandang kesadaran manusia sebagai bentuk yang nampak berupa perilaku, namun beberapa behavioris-kognitif juga mengakui bahwa di dalam otak manusia terdapat proses belajar yang turut membentuk kesadaran tersebut. Dalam behavioristik, perilaku-perilaku abnormal manusia disebut sebagai perilaku maladaptif. Behavioristik meyakini bahwa perilaku-perilaku maladaptif manusia merupakan hasil belajar yang sifatnya terkondisikan, daripada mekanisme pertahanan diri ego yang sifatnya impulsif dan neurotis. Hasil belajar tersebut dapat diperoleh melalui proses pengkondisian—melalui penguatan hubungan stimulus-respon dan/atau adanya reinforcement, maupun proses kognitif—melalui proses observational learning (social learning). Perspektif humanistik juga memiliki kacamata yang berbeda, dari psikoanalisa dan behavioristik, dalam memandang kesadaran manusia, yaitu sebagai usaha pendayagunaan diri untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup hingga mencapai aktualisasi diri. Dengan kata lain, kesadaran manusia termanifestasi di dalam pemberdayaan diri; manusia dianggap sadar jika dirinya terus berusaha untuk mencapai aktualisasi diri, sebaliknya, manusia yang berhenti mengusahakan aktualisasi dirinya dapat dikatakan bahwa ada sebagian kesadarannya yang terpendam. Karena ketiga perspektif psikologi tersebut—psikoanalisa, behavioristik, dan humanistik memandang kesadaran manusia secara berbeda dan terpisah sehingga ada fenomena perilaku manusia yang tidak terdeskripsikan oleh ketiganya, muncul perspektif keempat, yaitu psikologi transpersonal.

Psikologi transpersonal berusaha mengintegrasikan pemahaman tentang kesadaran manusia dari psikoanalisa, behavioristik, dan humanistik; dan menambahkan satu faktor yang merupakan inti dari perspektif ini, yaitu transendensi—keadaan dimana manusia berhasil memperoleh personal consciousness dan mengalami universal consciousness. Menurut Assagioli (dalam Firman & Gila, 2002), agar manusia mampu mencapai personal consciousness, dirinya perlu men-sintesis-kan kesadarannya pada tingkat bawah (lower unconscious) dan tingkat menengah (middle unconscious); sedangkan, agar manusia mampu mengalami universal consciousness (Assagioli menggunakan istilah transpersonal consciousness), dirinya perlu men-sintesis-kan personal consciousness dan higher unconscious—konsep ini disebut psychosynthesis. Dengan mekanisme yang lebih kompleks, Wilber (2000) merumuskan bahwa agar manusia mampu mengalami universal consciousness, dirinya perlu menyeimbangkan empat unsur (body, mind, soul, dan spirit), lima dimensi (affective, cognitive, moral, interpersonal, dan spiritual), dan empat sudut pandang (individual-collective dan interior-exterior) yang membentuk kesadaran manusia—konsep ini disebut integral psychology. Aspek transendensi tersebut membuat psikologi transpersonal kerap disebut sebagai psikologi spiritualitas (Tart, 1977).

Sebelum Assagioli (dalam Firman & Gila, 2002), Wilber (2000), dan tokoh-tokoh psikologi transpersonal lainnya memperkenalkan dan mengembangkan perspektif tersebut, dalam sejarah perkembangan psikologi, ada seorang tokoh psikoanalisa yang sudah menemukan konsep kesadaran berdasarkan konsep transpersonal—dia adalah Carl Jung (1923), dengan konsepnya yang kita kenal sebagai personal & collective conscious/unconscious. Namun, pada masa itu, konsep tersebut ditolak oleh banyak tokoh psikoanalisa—salah satunya oleh Sigmund Freud—karena disinyalir Jung berusaha mencampur-adukkan ilmu pengetahuan (psikologi) dengan agama, dimana keduanya dianggap menggunakan paradigma yang berbeda dalam menjelaskan sebuah fenomena (ilmu pengetahuan menjelaskan fenomena secara empiris sedangkan agama menjelaskan fenomena sebagai bagian dari doktrin keyakinan/iman). Jika kita membaca banyak biografi dari Jung (salah satunya oleh Deirdre Bair, 2008), tidak dapat dipungkiri bahwa Jung memang sangat dekat dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Tetapi, karena kedekatan Jung dengan hidup spiritualitas itulah, Jung berhasil menemukan sebuah konsep yang pada akhirnya diperhitungkan kebenarannya oleh para tokoh psikologi transpersonal sehingga melahirkan sebuah perspektif dalam sejarah psikologi yang masih terus berkembang hingga sekarang. Bahkan, sebelum konsep mengenai personal & collective conscious/unconscious ditemukan oleh Jung (1923) dan jauh sebelum perspektif psikologi transpersonal muncul dan berkembang, aliran-aliran kebijaksaan timur—seperti Buddisme, Zazen, Yoga, Sufisme, dan sebagainya—sudah terlebih dahulu mengajarkan konsep serupa kepada pengikut-pengikut mereka (Tart, 1977); oleh karena itu sangatlah wajar jika psikologi transpersonal terkait erat dengan aspek transendensi (spiritualitas).

Perdebatan antara paradigma yang digunakan oleh ilmu pengetahuan dan agama (spiritualis) dalam memandang fenomena—secara spesifik, kesadaran manusia, masih berlangsung hingga saat ini; bahkan hal tersebut terjadi di antara para peneliti dan tokoh psikologi, juga di antara peneliti-peneliti interdisipliner yang melakukan penelitian mengenai kesadaran manusia. Pada dekade tahun 70-an, para peneliti kesadaran manusia terbagi menjadi dua, yaitu mereka yang menggunakan metode penelitian “ortodoks”—yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui objektivitas dan terbukti secara kuantitatif, dan mereka yang menggunakan metode penelitian “kontemporer”—yang meyakini bahwa subjektivitas dalam fenomena-fenomena kesadaran manusia adalah valid dan reliabel untuk dianggap sebagai ilmu pengetahuan tanpa harus dibuktikan secara kuantitatif (Tart, 1977). Secara personal saya menilai bahwa kedua paradigma tersebut seharusnya dapat berkolaborasi untuk menemukan the nature of human consciousness karena baik sisi objektivitas maupun subjektivitas dalam kesadaran manusia memiliki bobot yang setara, dalam artian, banyak individu yang secara subjektif mengalami fenomena yang unik dan hal tersebut seharusnya dapat lebih dipahami dengan bantuan penelitian ortodoks. Ironisnya, sedikit penelitian-penelitian ortodoks yang mau menjembatani hal tersebut; daripada berusaha memahami pengalaman-pengalaman subjektif individu, hasil temuan dari penelitian-penelitian ortodoks cenderung mendiskredikan pengalaman-pengalaman subjektif tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk gangguan mental (Tart, 1977). Dalam perkembangannya, salah satu penelitian tentang kesadaran manusia dengan metode penelitian ortodoks yang paling muktahir adalah penelitian-penelitian di bidang neuropsychology, sedangkan salah satu penelitian tentang kesdaaran manusia dengan metode penelitian kontemporer yang paling muktahir adalah penelitian-penelitian di bidang parapsikologi. Sejauh yang saya ketahui, kedua bidang penelitian tersebut sudah berkolaborasi untuk menjelaskan beberapa fenomena kesadaran manusia, salah satu hasil temuannya berhasil menjelaskan hal-hal yang terjadi pada para biksu di Tibet yang secara rutin melakukan latihan meditasi. Secara sederhana, peralihan kesadaran para biksu tersebut—dari conscious menjadi sub-conscious terjelaskan melalui perpindahan gelombang otak beta menjadi alpha kemudian tetha. Hasil temuan tersebut menyimpulkan bahwa manusia dapat mengatur peralihan kesadarannya jika manusia mampu mengendalikan perpindahan gelombak otaknya. Fakta tersebut memperkuat asumsi saya bahwa kolaborasi antara penelitian ortodoks dan kontemporer mampu memperkaya pemahaman kita mengenai kesadaran manusia, selama keduanya tidak mendiskreditkan paradigma masing-masing dalam memandang sebuah fenomena, “sejanggal” apapun fenomena tersebut.

REFERENSI

Bair, D. (2008). Jung: A Biography: Paw Prints.

Brazdau, O. (2009). The Conscious Experience: Consciousness Quotient (CQ) and Brazdau CQ Inventory. In Toward a Science of Consciousness Conference, Hong Kong, China.

Davidson, R. J., Kabat-Zinn, J., Schumacher, J., Rosenkranz, M., Muller, D., Santorelli, S. F., … & Sheridan, J. F. (2003). Alterations in brain and immune function produced by mindfulness meditation. Psychosomatic medicine, 65(4), 564-570.

Firman, J., & Gila, A. (2002). Psychosynthesis: A Psychology of the Spirit: State University of New York Press.

Jung, C. G., & Baynes, H. G. (1923). Psychological Types: Or, The Psychology of Individuation: K. Paul, Trench, Trubner & Company, Limited.

Kabat-Zinn, J. (2006). Coming to Our Senses: Healing Ourselves and the World Through Mindfulness: Hyperion Books.

Kabat-Zinn, J. (2009). Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation In Everyday Life: Hyperion.

Kabat-Zinn, J., & Davidson, R. (2012). The Mind’s Own Physician: A Scientific Dialogue with the Dalai Lama on the Healing Power of Meditation: New Harbinger Publications.

Morin, A. (2005). Possible links between self-awareness and inner speech theoretical background, underlying mechanisms, and empirical evidence. Journal of Consciousness Studies, 12(4-5), 4-5.

Tart, C. T. (1977). Transpersonal Psychologies: Routledge and Kegan Paul.

Wilber, K. (2000). Integral Psychology: Random House Incorporated.

SUMBER

http://ciptarasakarya.wordpress.com/2013/07/06/kesadaran-manusia-dalam-perspektif-psikologi/

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s