Be The True You by Doing Self-knowing, Self-acceptance & Gratitude.

Kebetulan yang sudah diatur oleh Sang Pencipta. Beberapa minggu lalu aku dan Lukito Pramu Hardi menyusun sebuah konsep “mindfulness meditation” bagi mahasiswa dengan tiga materi utama: self-knowing, self-acceptance, dan gratitude. Kemudian, beberapa hari lalu aku diminta oleh wakil dekan fakultas psikologi Ubaya untuk menjadi fasilitator kelompok pada kegiatan EMSC (Exploring My Self Camp) bagi mahasiswa psikologi angkatan 2012 dengan materi-materi kegiatan selama tiga hari dua malam yang sama dengan tiga materi yang aku utarakan sebelumnya, yaitu self-knowing, self-acceptance, dan gratitude. Wow.. sejujurnya aku merasa takjub dengan “kebetulan” tersebut namun aku percaya bahwa itu semua sudah diatur oleh Sang Pencipta. Mungkin, agar aku bisa mempelajari konsep yang ada pada kegiatan EMSC tersebut sehingga aku bisa lebih menyempurnakan “mindfulness meditation” yang hendak aku dan Lukito Pramu Hardi lakukan.

Pada postingan kali ini aku hendak membagikan alasan dibalik pemilihan tiga konsep/materi tersebut dalam “mindfulness meditation” kami. Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, sebuah pepatah yang menurutku tidak hanya dikenakan dalam relasi sosial (interpersonal) namun bisa juga dikenakan ke dalam diri kita masing-masing (intrapersonal). Semakin kita mengenali kesejatian diri kita masing-masing, diharapkan kita bisa makin memahami diri sendiri. Proses tersebut dilakukan dengan memberlakukan komunikasi internal antara kita dan diri kita, atau yang juga sering disebut proses introspeksi diri/refleksi diri–aku lebih suka menggunakan istilah kedua, refleksi diri. Namun, ironisnya, sebagian besar orang cenderung mengenal dirinya melalui kacamata orang lain sehingga gambaran diri yang kita temukan seringkali bergantung pada penilaian/tuntutan sosial. Hasilnya? Mereka berlomba-lomba untuk mengubah dirinya sesuai dengan penilaian/tuntutan tersebut, yang seringkali membuat kita merasa “lelah”, “tak berdaya”, “penuh penyesalan”, dan sebagainya. Kesimpulan dari hal di atas adalah.. kita tidak nyaman dengan diri sendiri, dengan kehidupan yang kita jalani; kita tidak mengalami kebahagiaan.

Self-knowing
Tahap pertama adalah pengenalan tentang “siapa sejatinya kita?”. Berkaca dari pengalaman yang aku lakukan, penemuan jawaban atas pertanyaan di atas bisa dilakukan dengan berusaha menyadari kecenderungan-kecenderungan yang kita lakukan ketika kita berhadapan dengan masalah atau ketika kita berespon terhadap keinginan/kebutuhan/harapan yang kita miliki. Memang dalam prosesnya kita membutuhkan energi yang extra, ketika melakukan refleksi diri, karena akan dipertemukan kembali dengan banyak ingatan masa lalu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Namun demikian, menyenangkan/tidak, proses tersebut sebaiknya kita lakukan jika kita memang benar-benar ingin mengenal pribadi kita secara apa adanya dan holistik.

Self-acceptance
Pada tahap kedua, setelah kita telah mengenal diri, kita belajar dan berjuang untuk menerima itu semua sebagai bagian dari pribadi kita. Entah temuan tersebut bersifat baik/buruk, positif/negatif, sisi terang/sisi gelap, dan istilah-istilah lain yang bisa mewakili relasi dualisme itu. Sebagian besar orang cenderung untuk menerima sisi yang baik/positif saja, dan berusaha untuk menghilangkan/menolak/tidak mengakui sisi buruk/negatif-nya, padahal keduanya merupakan bagian dari pribadinya. Menilai fenomena tersebut, pendapatku, orang-orang yang demikian belum benar-benar siap untuk menerima keadaan dirinya, atau secara extrem, mereka kehilangan keutuhan jati diri.

Sisi buruk/negatif dalam diri kita masing-masing juga harus diakui dan diterima sebagai bagian dari pribadi kita karena hal tersebut memang benar-benar ada dan berkembang dalam diri kita. Di dalam kelompok mahasiswa peserta EMSC aku menekankan pada mereka bahwa baik hal baik/positif maupun hal buruk/negatif yang mereka temukan setelah berefleksi diri haruslah ditemukan kemanfaatannya. Hal buruk/negatif bisa berdampak baik/positif ketika kita memanfaatkannya untuk kemajuan/perkembangan diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan. Hal baik/positif pun sebenarnya bisa berdampak buruk/negatif jika kita memanfaatkannya untuk hal itu. Jadi, bukan berarti kita harus melulu mengembangkan hal baik/positif saja dan menghilangkan hal buruk/negatif dalam diri kita, melainkan, sebaiknya kita mencari kemanfaatan dari semua hal yang kita temukan tentang diri sendiri.

Gratitude
Pada tahap terakhir, setelah kita sanggup menerima keadaan diri secara apa adanya dan menemukan kemanfaatan dari semua hal yang ada di dalam pribadi kita, syukurilah. Bersyukurlah karena tanpa adanya “mereka”, kita tidak akan menjadi “kita” yang kita kenal saat ini. Jika salah satu dari “kekitaan” tadi berusaha dihilangkan, apakah kita tetap menjadi “kita”? Tidak. Karena “mereka” hadir secara utuh maka kita menjadi pribadi yang utuh. Syukurilah kehadiran mereka yang menjadikan kita menjadi lebih kita.

Namaste.. Berkah Dalem _/\_

2 thoughts on “Be The True You by Doing Self-knowing, Self-acceptance & Gratitude.

  1. Yuhuuuu Adi,
    Pagi-pagi dimulai dengan baca tulisan-tulisanmu,,,,
    berasa terbuka lagi pikiran ini. Thanks for the sharing anyway

    Same here, aku juga belajar tentang awareness, dan sekarang lagi praktik mengenai Creating Life Worth the Living

    Secara konsep juga sama ada knowing dan acceptance, termasuk satu lagi adalah difusion beserta teknik-teknik untuk melihat masalah dengan lebih holistik, tar kapan-kapan kalau ada waktu saling sharing yah.

    Masih berusaha membangkitkan kesadaran dengan benar dulu, Yang cakhra itu harus banyak belajar ke kamu, dari dulu belum maju-maju :malu:

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s