My Passion: To Be a Therapist of Consciousness Studies (Developing Consciousness Therapy of Integrated-self)

Sesuai janjiku pada postingan sebelumnya My Passion: To Be a Scientist (PhD) of Consciousness Studies, tulisan kali ini akan bercerita tentang doronganku untuk menjadi seorang terapis kesadaran dan menciptakan sebuah terapi kesadaran. Dorongan yang paling mendasar adalah ingin membantu orang-orang agar bisa mencapai diri yang terintegrasi (integrated-self). Menurutku, kondisi diri yang terintegrasi dapat sangat membantu seseorang dalam membentuk pribadinya. Selain itu, kondisi diri yang terintegrasi juga memampukan seseorang untuk mencapai potensinya secara optimal. Proses pencapaian kondisi diri yang terintegrasi melibatkan penyadaran atas pengalaman masa lalu, keadaan saat ini, dan pengharapan di masa depan

Integrated-self, apa itu?

Aku terinspirasi untuk menggunakan istilah integrated-self baru dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. Prosesnya diawali dari diskusi mengenai psikologi transpersonal dengan seorang “saudara seperjuangan”, Lukito Pramu Hardi, penulis blog berjudul Ecce Mea Vita. Berikut transkrip percakapan kami di sebuah aplikasi chatting yang populer digunakan banyak orang.

Keterangan: [L] = Lukito Pramu Hardi; [A] = Adi Acong (aku).

L : Punya definisi tentang psikologi transpersonal yang paling “tepat” nurut kamu?

A : Dari referensi2 yang aku baca sih aku menyimpulkan: proses menuju higher self melalui integrasi kesadaran. Kesadaran dibagi dua: di dalam & di luar self.

L : Higher self itu sendiri apa?

A : Kalo definisiku.. self yang sudah terintegrasi dengan memiliki kesadaran yang utuh sehingga punya kendali sepenuhnya atas diri dan hidupnya, yang “hidup” di saat ini & sekarang dengan potensi2 diri yang terus dikembangkan.

L : Ok, nanti kita coba kembangkan beberapa istilah yang memang belum jelas definisinya. Definisinya higher self bagus juga.

A : Tapi aku kok lebih suka pakai istilah “integrated-self” hehehe. Higher self itu istilah dari eee.. lali aku jeneng tokoh’e, hahahaha

Seperti yang terpaparkan dalam transkripsi tersebut, jika dikaitan dengan konsep psikologi, pencapaian kondisi diri yang terintegrasi merupakan bagian dari paradigma psikologi transpersonal. Pertemuanku dengan psikologi transpersonal pun masih berumur enam bulan, ketika aku mengikuti kelas perkuliahan program pendidikan magister sains psikologi di sebuah universitas swasta di Surabaya, yang dijelaskan oleh Prof Yusti Probowati. Sejak saat itu, aku banyak membaca literasi mengenai psikologi transpersonal, dengan tokoh-tokohnya, antara lain: Roberto Assagioli, Charles Tart, Ken Wilber, John Firman – Ann Gila, Stanislav Grof, dan banyak tokoh lainnya yang tidak berhasil aku ingat nama mereka, hehehe.. Pada bagian lain dari postingan ini akan aku bahas sedikit mengenai psikologi transpersonal, sekarang mari menyimpulkan konsep tentang integrated-self. Berdasarkan translasi di atas, aku mendefinisikan integrated-self sebagai sebuah kondisi dimana seseorang sudah memiliki kesadaran yang utuh sehingga punya kendali sepenuhnya atas diri dan hidupnya, yang “hidup” di saat ini & sekarang dengan potensi2 diri yang terus dikembangkan. Poin-poin utama yang terkandung dalam definisi tersebut, antara lain: 1) memiliki kesadaran yang utuh, 2) punya kendali sepenuhnya atas diri dan hidup, 3) menjalani “hidup” di saat ini & sekarang, dan 4) adanya potensi-potensi diri yang terus dikembangkan.

Integrated-self: Kesadaran yang Utuh

Ada banyak penjelasan yang bisa membantu kita dalam memahami tentang kesadaran. Pada bagian ini aku akan menjelaskan beberapa konsep saja, yang tentunya berkaitan bidang keilmuan yang sedang aku geluti, psikologi. Menurut paradigma psikoanalisa, kesadaran manusia terbagi menjadi dua, yaitu subsconsciouss dan consciouss–ada beberapa tokoh yang menambahkan istilah unconscious dan pre-consciouss. Oleh tokoh-tokoh psikoanalisa, substansi yang terkandung dalam subconsciouss banyak dikaitkan dengan represi ketidakpuasan atas pengalaman/peristiwa/perlakuan/kebutuhan/dan lain sebagainya yang terjadi di masa lalu. Ketidakpuasan tersebut secara sengaja/tidak sengaja ditekan agar tidak muncul dalam bentuk ekspresi yang nampak/dapat diinderai oleh orang lain karena adanya belief system–yang sifatnya berbeda pada setiap nilai budaya; agama; kemasyarakatan; dan lain-lain, yang menganggap bahwa pengekspresian ketidakpuasan tersebut adalah taboo/tidak pantas dimunculkan. Sigmund Freud (tokoh pioner yang memperkenalkan istilah psikoanalisa) menyatakan bahwa hal-hal yang seringkali di-repress oleh sebagian besar orang adalah tentang seksualitas, oleh karenanya teori-teori yang dikembangkan oleh Freud lebih mengarah pada penjelasan mengenai seksualitas–salah satu istilah yang diangkat oleh Freud adalah libido.

Paradigma berikutnya dalam mazhab psikologi yang berusaha menjelaskan tentang kesadaran adalah behaviorism. Paradigma ini lahir sebagai bentuk perkembangan psikologi dimana para tokoh behaviorist menganggap bahwa konsep yang ditawarkan oleh psikoanalisa merupakan serangkaian proses yang terjadi di dalam diri manusia sehingga tidak dapat dipastikan kesahihannya, sedangkan salah satu syarat agar penelitian empiris dapat dilakukan dan menghasilkan kesimpulan yang disepakati bersama adalah adanya fenomena (perilaku) yang overt/observable. Menurut para behaviorist, fenomena (perilaku) yang overt mengandung beberapa kriteria, antara lain: 1) dapat dideskripsikan, 2) dapat ditangkap oleh panca indera, dan 3) dapat diukur/dihitung secara kuantitatif. Oleh para behaviorist, kesadaran diartikan sebagai bentuk ekspresi diri individu yang muncul ke permukaan, dengan kata lain, yang nampak dalam bentuk perilaku yang overt, di luar itu tidak diakui sebagai kesadaran. Karena pendekatan yang dilakukan oleh behaviorism dianggap “mendegradasikan” kualitas manusia, muncullah paradigma humanism. Para tokoh humanis berusaha mengangkat kembali esensi dari menjadi manusia, yaitu menerima keadaan diri apa adanya sehingga dirinya mampu mengembangkan potensi-potensi yang selama ini terpendam. Beberapa konsep yang ditawarkan oleh humanism terwakili oleh self-actualization theory, self-determination theory, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut mengarahkan individu untuk memandang masa depannya; memandang pencapaian yang mungkin diaktualisasikan olehnya.

Beberapa dekade terakhir berkembang paragidma baru dalam psikologi, yaitu transpersonal. Secara sekilas, paradigma tersebut serupa dengan humanism karena pendekatannya juga menekankan pada perkembangan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia. Beberapa hal yang membedakan paradigma transpersonal dengan humanism adalah adanya pengakuan atas inner-self (yang berbeda dengan konsep subsconscious-nya psikoanalisa meskipun sama-sama berfokus ke dalam diri individu), berkaitan dengan aspek spiritualitas, dan adanya pengakuan atas fenomena-fenomena “supranatural” yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Paradigma transpersonal memandang bahwa meskipun kesadaran manusia termanifestasi ke dalam beberapa area, tugas mereka adalah mengintegrasikannya menjadi kesatuan yang utuh. Selain itu, para tokoh transpersonal juga meyakini adanya kesadaran lain di luar kesadaran manusia yang turut mempengaruhi proses integrasi kesadaran, itulah sebabnya paradigma transpersonal mengangkat isu-isu terkait spiritualitas dan collective unconsciouss/consciouss.

Pencapaian kesadaran yang utuh dalam proses integrated-self, secara sederhana, aku jelaskan dengan pendekatan bahwa setiap kesadaran yang dimiliki oleh individu dikondisikan untuk bertemu dalam “posisi waktu” saat ini dan sekarang. Aku menemukan bahwa sebagian besar orang “terjebak” dengan masa lalunya sedangkan sebagian besar lainnya “terjebak” dengan masa depannya, hal tersebut juga aku temukan dalam perjalanan hidupku sendiri; “terjebak” baik pada masa lalu maupun masa depan. Keadaan tersebut membuat kita “tertidur” dan melewatkan “realitas yang sebenar-benarnya terjadi”–terkait istilah ini sepertinya akan menarik untuk dibahas dalam postingan tersendiri, pada diri dan hidup kita masing-masing; keadaan tersebut juga mencegah kita untuk berkembang/mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri kita. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk berada pada “posisi waktu” saat ini dan sekarang.

Integrated-self: Kendali Sepenuhnya atas Diri dan Hidup

Ada sebuah quotes yang berbunyi, “we are what we are thinking of/want to be“. Kita sadari atau tidak, banyak kali kita menemukan/mengalami bahwa apa yang kita pikirkan benar-benar terjadi. Secara pribadi, aku sangat setuju pada pernyataan dan kenyataan tersebut oleh karenanya kita perlu bijak untuk memikirkan/menginginkan segala sesuatu. Namun kondisi kesadaran kita yang tidak utuh/belum terintegrasi membuat pikiran/keinginan kita menjadi: tak terkontrol; tak teridentifikasi; tak terarah; dan lain sebagainya. Dalam kondisi tersebut, diri dan hidup kita lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal (life-events, tuntutan sosial, pandangan orang lain, dan lain-lain) dan membuat kita berespon secara reaktif/impulsif terhadapnya; seolah-olah kita tidak mempunyai/kehilangan kendali atas diri dan hidup kita masing-masing. Sebagian besar orang mendasari pengambilan keputusan atas pilihan-pilihan dalam hidupnya dari apa yang seharusnya, bukan apa yang seadanya. Keadaan tersebut seringkali diartikan sebagai “tidak punya pilihan” padahal jelas sekali banyak pilihan yang ditawarkan di sana, hanya diri kita saja yang “tidak berani” mengambil pilihan-pilihan alternatif tersebut. Keadaan tersebut juga membuat setiap pergerakan dalam diri dan hidup kita menjadi diatur oleh hal-hal di luar diri kita, bukan yang ada di dalam diri kita. Tanda paling mudah untuk mengidentifikasi hal tersebut adalah adanya penyesalan. Ketika kita berhasil mengintegraikan diri, aku dapat menjamin bahwa tidak akan ada lagi penyesalan atas setiap keputusan kita karena kita sudah sepenuhnya memiliki kendali atas diri dan hidup kita.

Integrated-self: Hidup di Saat Ini dan Sekarang

Pada bagian sebelumnya (Integrated-self: Kesadaran yang Utuh) aku banyak menggunakan istilah “saat ini dan sekarang”, dan pentingnya berada pada “posisi waktu” tersebut juga sudah aku paparkan. Oleh karenanya, ijinkan aku membahas poin selanjutnya.

Integrated-self: Pengembangan Potensi yang Terus Menerus

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa sesungguhnya di dalam diri mereka terpendam banyak potensi yang menunggu untuk dikembangkan. Ketiadaan kesadaran tersebut, salah satunya, merupakan dampak dari apa yang sudah aku sebut pada bagian sebelumnya (Integrated-self: Kendali Sepenuhnya atas Diri dan Hidup) sebagai “tidak ada pilihan lain”. Karena kita merasa bahwa keadaannya tidak memungkinkan kita untuk mengarahkan langkah ke tujuan lain, kita memilih untuk berada pada titik yang sama, padahal jauh terpendam di dalam diri kita terdapat potensi-potensi yang jika kita kembangkan akan membuat kita terkagum-kagum karena tidak menyangka bahwa kita memiliki/mampu melakukan semua potensi tersebut.

Demikianlah tulisanku yang berusaha berbagi tentang salah satu passion-ku, yaitu menjadi seorang terapis kesadaran dan menciptakan sebuah terapi kesadaran yang bertujuan untuk membantu orang-orang agar bisa mencapai diri yang terintegrasi (integrated-self), yang sangat membantu seseorang dalam membentuk pribadinya seperti keempat poin yang aku paparkan di atas. Akhir kata, sekali lagi, aku memohon dukungan dari para pembaca yang budiman, semoga passion-ku bisa terealisasikan. Amin! _/\_

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s