My Passion: To Be a Scientist (PhD) of Consciousness Studies

Beberapa minggu lalu, pada akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan passion-passion yang hendak aku capai dalam waktu dekat. Setelah melalui proses permenungan dengan mencari benang merah dari setiap kecenderungan yang seringkali aku lakukan, terdokumentasikan-lah enam passion. Salah satu topik dari keenam passion tersebut berkaitan dengan kesadaran (consciosness). Dari topik tentang kesadaran, ada dua passion yang hendak aku capai, yaitu 1) menjadi seorang ilmuwan/peneliti, dan 2) menjadi seorang terapis. Berkaitan dengan poin yang pertama, harapanku adalah mendapatkan gelar PhD dalam bidang consciousness studies. Sedangkan berkaitan dengan poin kedua, harapanku adalah menciptakan sebuah terapi kesadaran, tujuannya untuk membantu orang-orang agar bisa mencapai diri yang terintegrasi (integrated-self).

Pada tulisan kali ini, aku akan berbagi tentang dorongan terbesar yang membuatku ingin sekali mendapatkan gelas PhD dalam bidang consciousness studies, sedangkan penjelasan mengenai terapi kesadaran yang ingin aku ciptakan akan aku paparkan dalam tulisan selanjutnya. Dorongan terbesarku untuk mendapatkan gelar PhD berangkat dari sebuah motivasi sederhana, memberikan wacana bahwa hal fundamental yang membentuk pribadi manusia adalah kesadaran–lebih spesifiknya, energi kesadaran (yang banyak diistilahkan sebagai prana, chi, dan lain sebagainya). Penelitian dalam bidang fisika menemukan bahwa substansi yang membentuk sebuah atom adalah sub-atom, kemudian sub-atom sendiri juga dibentuk oleh sebuah kondisi yang disebut zero-point field (ZPF). Hal tersebut dibuktikan melalui penelitian-penelitian radiasi, dimana salah satu ilmuwan populer yang turut memberikan sumbangsih atas temuan tersebut adalah Albert Einstein. Melalui penelitiannya, Einstein menemukan bahwa radiasi cahaya (dalam taraf tertentu) dapat mengubah interaksi elektron-proton-neuron dalam sebuah atom/sub-atom yang mengakibatkan suatu benda mengalami perubahan substansi di dalam dirinya.

Peneliti lain yang baru-baru ini juga menemukan hal serupa adalah Keppler (2012), dengan judul penelitiannya A Conceptual Framework for Consciousness Based on a Deep Understanding of Matter. Pada penelitian tersebut, Keppler berusaha memahami kesadaran manusia dengan mencari benang merah antara salah satu temuan terbaru di bidang fisika, yang menurutnya melampaui konsep fisika kuantum–yang disebut stochastic electrodynamics (SED) dan filosofi timur. Keppler (2012) menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang terdapat pada ZPF (zero-point field) mirip dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh prana/chi/dan istilah-istilah lain yang mewakili. Hasil pembandingan yang dilakukan oleh Keppler dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Comparison between Physics and Eastern Philosophy

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak peneliti/ilmuwan yang juga berusaha menyingkap misteri dari kesadaran manusia. Namun demikian, belum ada hasil temuan yang benar-benar memuaskan dan memperoleh kesepakatan bersama. Menurut pendapatku, fenomena tersebut merupakan manifestasi dari keterbatasan metode penelitian konservatif, dimana hasil temuan penelitian yang dapat disepakati bersama haruslah terbuktikan secara empiris: bersifat rasional (dapat diterima akal sehat); objektif (dapat ditangkap oleh sensasi panca inderawi); dan kuantitatif (sehingga dapat dilakukan uji statistik untuk memenuhi kriteria validitas dan reliabilitasnya). Selain ketiga syarat tersebut masih ada beberapa syarat lainnya lagi yang harus dipenuhi agar sebuah proses penelitian dikatakan empiris, namun ketiga syarat tersebut sudah cukup mewakili pendapatku sebelumnya bahwa kegagalan para peneliti/ilmuwan dalam menyingkap misteri kesadaran manusia terletak pada kekakuan metode penelitian konseravatif.

Jika anda bersedia merefleksikan semua pengalaman/peristiwa yang pernah anda alami selama hidup, aku yakin anda pasti menemukan banyak fenomena yang sifatnya irasional dan subjektif. Misalnya saja tentang intuisi–anda juga bisa menyebutnya sebagai “suara hati” atau “gerakan hati”, dan lain sebagainya. Banyak pilihan/keputusan yang kita buat selama hidup didasarkan pada dampak yang mungkin kita alami/rasakan setelah menjalani pilihan/keputusan tersebut, bisa berupa ketenangan/kelegaan/kebahagiaan batin, dan lain sebagainya–setiap orang memiliki sensasinya masing-masing dan aku menghargai hal tersebut. Bahkan ketika pilihan/keputusan tersebut kita pertimbangkan kembali secara matang dengan menggunakan logika dan rasio, banyak kali tidak ditemukan logika/rasio yang memadai–atau dapat dikatakan tidak logis dan irasional. Namun ketika kita menjalani pilihan/keputusan tersebut, kita menemukan bahwa intusi yang kita ikuti membawa dampak yang menenangkan/melegakan/membahagiakan. Jika demikian yang terjadi, bukankah yang awalnya kita kira tidak logis dan irasional, malah membawa dampak yang positif bagi diri dan hidup kita? Pada sisi itulah metode penelitian yang konservatif gagal paham ketika berusaha menjelaskan misteri kesadaran manusia.

Baru-baru ini aku menemukan sebuah artikel yang memaparkan sebuah fakta bahwa ternyata ada sebuah organisasi anti-mainstream yang bersedia mendanai penelitian-penelitian yang menggunakan metode penelitian non-konservatif. Aku lupa tepatnya nama dari organisasi tersebut, tetapi–jika tidak salah mengingat artikelnya ada di situs berjudul Conscious Life News. Dalam situs tersebut juga terdapat sebuah artikel menarik yang isinya mendukung pandanganku–dan juga pandangan banyak orang lainnya, bahwa energi kesadaran merupakan hal fundamental yang membentuk pribadi manusia. Artikel tersebut berjudul Your Body Is A Mirror Of Your Life, yang ditulis oleh Martin Brofman, PhD pada tahun 1987. Ironisnya aku baru membaca artikel tersebut pada tahun ini, dan memang waktu publikasi artikel tersebut dalam situs Conscious Life News menunjukkan tahun 2013.

Akhir dari tulisanku pada postingan ini, aku memohon dukungan dari rekan-rekan pembaca agar aku bisa mewujudkan salah satu passionku untuk mendapatkan gelar PhD dalam bidang consciousness studies. Dan dibalik pencapaian tersebut, aku berharap hasil temuanku nantinya mampu memberikan sumbangsih terhadap perkembangan pemahaman dan kesadaran umat manusia tentang sisi fundamental dari energi kesadaran untuk membentuk pribadi mereka.

Namaste.. Berkah Dalem _/\_

Referensi:

– Brofman, M. (1987). Your Body Is A Mirror Of Your Life. from http://consciouslifenews.com/body-mirror-life/1153869/

– Keppler, J. (2012). A conceptual framework for consciousness based on a deep understanding of matter. Philosophy Study, 2, 689-703.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s