Review tentang Penelitian Etnografi

Metode penelitian berbasis etnografi memiliki tujuan yang sama dengan metode interpretif lainnya—berfokus pada pencarian makna individu. Namun etnografi memiliki karakteristik khusus, yang berbeda dengan metode interpretif lain, yaitu melihat pemaknaan individu sebagai hasil pembentukan dari budaya—melalui simbol-simbol; pemahaman; dan cara hidup yang disalurkan secara kolektif. Proses pemaknaan tersebut bertujuan untuk memahami budaya tertentu menurut tata cara budaya tersebut, dan untuk merepresentasikan pemaknaan atas tindakan dan kebiasaan; pranata dari sudut pandang pelaku budaya. Dalam melakukan penelitian dengan metode etnografi, penting untuk ditekankan bahwa pendekatan etnografi, dan dalam pendekatan kualitatif lainnya, menggunakan perspektif/metode yang beragam. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kriteria evaluasi hasil penelitian, antara lain: terpercaya, kredibel, dan dapat diterima.

Para peneliti etnografi meyakini bahwa proses perkembangan manusia terkait dengan proses enkulturasi—proses penciptaan makna atas budaya tertentu, dan pengorientasian individu ke dalam sistem makna. Setiap individu dipengaruhi oleh budaya tertentu, dengan serangkaian kerangka pikir atas kepercayaan, ritual, dan pemaknaan dalam budaya tersebut. Selain itu, para peneliti etnografi juga meyakini bahwa dunia tempat individu dilahirkan memiliki tradisi dan sistem semiotika tersendiri. Individu menggunakan kemampuan pemaknaan yang terus menerus bertumbuh untuk berpartisipasi dalam ritual-ritual budayanya. Proses tersebut dilakukan secara konstruktif, baik secara individual maupun kolektif. Secara individual berarti setiap individu menciptakan pemaknaan pribadi, yang terbatas pada sumber daya yang tersedia. Sedangkan secara kolektif berarti sumber daya tersebut diciptakan oleh generasi sebelumnya dan disediakan kepada individu oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Penelitian etnografi melibatkan ketelitian dalam penggalian data ilmiah, yang ditandai oleh proses pengambilan data yang berulang dan bervariasi; pencatatan yang detil dari proses pengambilan data; sikap skeptis yang terus menerus agar memunculkan banyak pertanyaan dalam setiap proses interpretasi hasil pengambilan data; dan presentasi hasil interpretasi kepada komunitas ilmiah yang lebih besar. Ada empat pendekatan yang bisa dilakukan agar menunjang keutuhan hasil penelitian etnografi. Pertama, sustained and engaged nature of data collection, dimana peneliti harus mengenal komunitas dari partisipan—lingkungan fisik dan institusional dimana mereka tinggal, rutinitas keseharian yang dilakukan oleh partisipan dan kelompoknya, keyakinan-keyakinan yang mendorong perilaku tertentu muncul, dan bahasa dan sistem semiotika lain yang memediasi semua konteks dan aktivitas budaya—agar peneliti bisa melakukan penetrasi atas sistem pemaknaan partisipan. Melalui kontak dengan komunitas yang berkelanjutan, peneliti dapat menjaga keterikatan yang dalam dengan kehidupan, ritual-ritual, perayaan-perayaan, dan permasalahan yang dimiliki partisipan. Kesuksesan peneliti dalam menjaga hubungan kolaboratif dengan partisipan mendukung validitas dan generalisasi temuan penelitian. Kedua, implicit multicultural perspective, tujuannya agar peneliti tidak melakukan kesalahan dalam usaha menangkap pemaknaan partisipan secara eksplisit. Ketiga, microscopic and holistic data collection and analyses process, dimana peneliti harus mendasarkan interpretasinya atas peristiwa budaya pada akumulasi detil pengambilan data yang spesifik dari peristiwa keseharian dan hasil refleksi partisipan atas peristiwa tersebut, agar menjamin validitas pemahaman peneliti atas budaya tertentu. Penting bagi peneliti untuk tidak hanya menjelaskan tindakan-tindakan yang nampak secara mikroskopikal namun juga melakukan kontekstualisasi agar peneliti dapat mendeskripsikan sebuah peristiwa secara tepat dan lebih holistik seperti yang dipahami oleh pelakunya. Keempat, dynamic inquiry process, yang ditandai oleh metodologi penelitian yang generatif dan self-corrective. Peneliti yang sukses perlu fleksibel dalam merevisi atau membuang pertanyaan penelitian dan melakukan penyesuaian prosedur pengambilan data, yang disesuaikan dengan posisi peneliti dalam situs penelitian secara fisik maupun sosial. Peneliti harus terbuka untuk mempelajari pendekatan yang sesuai dengan warga lokal ketika memberikan pertanyaan dalam proses interviu; harus mengembangkan cara-cara yang efektif dalam memaparkan tujuan penelitian dan perannya sebagai peneliti kepada partisipan; dan harus belajar menempatkan diri secara fisik maupun sosial agar peneliti diijinkan untuk melakukan observasi terhadap fenomena yang ada. Seringkali, negosiasi tersebut membutuhkan kesediaan peneliti untuk menerima interaksi-interaksi yang ada pada situs penelitian, dan untuk mencari cara pandang yang baru, agar memperkaya hasil pengambilan data.

Selain empat pendekatan tersebut, dalam penelitian etnografi juga terdapat empat fase yang harus dilakukan. Pertama, developing questions and gaining access. Peneliti memulai proses penelitian dengan memformulasikan permasalahannya, berdasarkan penelitian sebelumnya, dan sebanyak mungkin mempelajari hal-hal terkait komunitas dan institusi yang menjadi fokus penelitian. Informasi-informasi tersebut dibutuhkan peneliti untuk menyusun pertanyaan penelitian awal, mengenali kondisi di lapangan, dan merancang pendekatan terbaik yang mampu menjawab pertanyaan penelitian. Agar peneliti berhasil menerapkan pendekatan yang telah disusun, peneliti memerlukan keterampilan interpersonal dan kesadaran agar memperoleh kepercayaan dari partisipan dan kelompoknya, terlebih lagi jika status peneliti di dalam setting penelitiannya adalah sebagai orang asing (outsider). Kedekatan hubungan antara peneliti-partisipan dan kelompoknya juga turut mempengaruhi pemikiran kritis dalam menggali informasi sehingga hal tersebut dapat memperkaya hasil yang diperoleh. Kedua, collecting and managing data. Selama di lapangan, peneliti diharapkan mampu mencatat setiap aktivitas yang terkait tujuan penelitiannya, serta mencatat reaksi dan interpretasi awalnya ketika mengamati aktivitas tersebut, secara jeli. Ada beberapa bentuk pendokumentasian yang bisa dilakukan, antara lain field notes, interviews, indirect observations, dan artifacts. Ketiga, interpreting and analyzing data. Analisa data berlangsung sejak awal proses penelitian dan berlanjut selama program pendekatan etnografi yang panjang, dengan membangun proyek penelitian baru dari hasil yang didapatkan sebelumnya. Proses interpretasi biasanya dilakukan secara induktif, perubahan sistem dan kategori dalam melakukan koding berlangsung selama ada perkembangan dalam proses pembandingan data. Analisa awal biasanya berfokus pada pengembangan kategori yang bertujuan agar data yang diperoleh bisa beragam dan luas. Sejalan dengan perkembangan hasil analisa, kategorisasi akan menjadi lebih dalam, dan keterkaitan antar kategori akan dianalisa. Kredibilitas hasil temuan ditentukan oleh pendokumentasi yang baik dan penganalisaan data yang sistematis. Peneliti etnografi sangat menekankan pada pemaparan fenomena yang tertangkap melalui perspektif partisipan secara akurat dan valid sehingga diperoleh sebuah kisah yang benar. Oleh karenanya peneliti etnografi selalu melakukan triangulasi data melalui pembandingan dan pengintegrasian data dari berbagai sumber. Keempat, writing. Dalam menuliskan hasil penelitiannya, peneliti etnografi memiliki moto “write early, write often”. Bentuk pencatatannya beragam, dan biasanya peneliti etnografi melakukan publikasi yang berulang atas hasil penelitiannya. Beberapa isu yang diperhatikan oleh peneliti etnografi dalam melakukan pencatatan, antara lain: bagaimana merepresentasikan orang lain atau membiarkan orang lain merepresentasikan dirinya sendiri; bagaimana merepresentasikan peran, batasan, dan bias yang dimiliki peneliti di dalam situs penelitian; bagaimana menyatukan beragam perspektif secara tepat; dan bagaimana menghargai keberagaman dan kompleksitas dalam praktek-praktek budaya. Hal tersebut menghasilkan diversifikasi dalam sejumlah publikasi penelitian etnografi.

Tulisan di atas merupakan hasil pengerjaan tugas mata kuliah Psikologi Lintas Budaya. Kebetulan aku mendapatkan jatah untuk me-review tentang penelitian dengan basis etnografi. Tulisan aslinya berjudul “Ethnographic Methods: Applications From Developmental Cultural Psychology” oleh Miller, Hengst, dan Wang. Jika ada pembahasaan yang kacau, aku mohon maaf.. maklum tidak terlalu mahir dalam berbahasa Inggris sehingga bahasa terjemahan ke dalam bahasa Indonesia (agak) kacau balau. Terima kasih.

One thought on “Review tentang Penelitian Etnografi

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s