Spirituality at Work (sekedar mendokumentasikan ide terkait tesis)

Setelah lebih dari enam bulan galau dan bergonta ganti topik penelitian tesis, akhirnya aku membulatkan tekad untuk memilih topik spirituality at work. Mengapa spiritualitas? Bahasan tentang spiritualitas sudah menjadi fokusku selama beberapa waktu terakhir, salah satunya bisa dilihat dari topik-topik tulisanku di dalam blog ini. Aku memandang bahwa hidup manusia tidak bisa lepas dari spiritualitas. Dalam konteks masyarakat di Indonesia, banyak orang mulai mengarahkan hidupnya untuk mau peduli terhadap kehidupan beragama dan kepercayaan mereka. Bukti nyatanya, makin banyak konflik antar umat beragama yang muncul ke permukaan, yang juga dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya kerukunan di antara agama-agama yang beragam. Meskipun kehidupan beragama dan kepercayaan tidak selalu berkorelasi positif dengan spiritualitas, paling tidak aspek spiritual juga terdapat di dalam agama dan kepercayaan, hanya saja kurang dipahami dengan utuh oleh para pemeluk agama dan kepercayaan.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa aku membahas spiritualitas di dalam dunia kerja? Sadar atau tidak, mayoritas manusia menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Mereka yang bekerja sudah berada di tempat kerjanya sejak pagi dan pulang ke tempat tinggalnya pada sore/malam hari (dengan jam operasional yang beragam). Rata-rata mereka bekerja selama 6-8 jam/hari dalam enam hari kerja, jika dikonversi ke dalam prosentase, mereka yang bekerja menghabiskan 1/3 waktunya untuk bekerja dalam sehari. Angka-angka tersebut dapat meningkat ketika ada waktu lembur di tempat kerja dan/atau ada tugas-tugas yang dikerjakan di tempat tinggal. Jika hal itu yang terjadi, maka dapat dipastikan bahwa bekerja menggunakan separuh dari waktu dalam sehari.

Dalam sebuah jurnal penelitian yang baru saja selesai aku baca (Karakas, Fahri (2010). Spirituality and performance in organizations: a literature review. Journal of Business Ethics, 94(1), pp. 89–106), peneliti menekankan bahwa penerapan spiritualitas dalam pekerjaan dapat berdampak positif pada: 1) pencapaian kualitas dan kesejahteraan hidup; 2) munculnya kesadaran tentang tujuan dan makna bekerja; dan 3) proses bekerja yang berbasis pada terciptanya komunitas yang interconnected. Penerapan spiritualitas dalam pekerjaan diharapkan punya peranan dalam meningkatkan kinerja. Harapan tersebut, oleh peneliti, dapat disalahgunakan oleh pemegang kekuasaan dalam sebuah organisasi, dengan memanfaatkan aspek spiritual sebagai senjata untuk mengendalikan bawahannya. Selain berpotensi sebagai “alat pengendali”, penerapan spiritualitas dalam pekerjaan juga dapat berdampak negatif, yang dirangkum oleh peneliti dalam jurnal di atas menjadi dua, yaitu: 1) bahaya proselitisme; dan 2) isu kompetibilitas. Untuk penjelasan lebih detil, silahkan mengunduh jurnal penelitian tersebut.

Salam hangat,
Adi Acong

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s