Sedikit tentang Integritas (Suplementasi tentang Menjadi Garam dan Terang Dunia)

Setiap memeriksa traffic ke blog ini, aku menemukan bahwa banyak pengunjung mencari topik tentang “menjadi garam & terang dunia”. Dugaanku, para pengunjung yang budiman tadi mencari topik bahasan tersebut karena tugas, mungkin kebanyakan dari mereka (anda) yang mencari adalah siswa sekolah menengah. Semoga tulisanku tentang “garam & terang dunia” bisa memberikan pengetahuan & pemahaman yang mencerahkan, lebih-lebih bisa mempengaruhi kesadaran. Amin!

Pada postingan kali ini aku ingin sedikit mengulang atau menambahkan tulisanku tentang “garam & terang dunia”. Sedikit keluar dari konteks spiritualitas namun sebenarnya juga masih berada dalam koridor yang sama, berbicara tentang “garam & terang dunia” secara sederhana kita juga berbicara tentang integritas. Dalam artian, segala yang kita pikirkan/ucapkan idealnya juga nampak dalam tingkah laku. Bukankah banyak di antara kita yang tidak menyukai inkonsistensi, contohnya saja ketika ada orang yang berbicara (ekstrimnya, menasehati) tentang kejujuran namun orang tersebut seringkali menampilkan topeng/berbohong/manifestasinya yang lain, kita cenderung menganggap dia tidak konsisten. Ketika kita berbicara tentang kejujuran, semestinya kita sudah menjadi pribadi yang jujur, itulah integritas.

Dalam dunia industri & organisasi, setiap pelakunya dituntut untuk mempunyai integritas, khususnya bagi mereka yang berkedudukan sebagai pimpinan. Tujuannya agar mereka dianggap layak untuk menjadi role model bagi rekan kerja, khususnya bawahan. Bayangkan ketika setiap perkataan pimpinan tidak sesuai dengan tindakannya, bagaimana pendapat anda? Dampaknya yang paling parah adalah corporate/organisasi tersebut akan menjadi kacau balau. Karena role modelnya inkonsisten, para pengikutnya ikut menjadi inkonsisten.

Kembali pada bahasan “menjadi garam & terang dunia” sekaligus sebagai penutup postingan ini. Tunjukkan totalitas dalam menjadi garam & terang dunia, bukan sekedar pandai berkata-kata/pandai merumuskan konsep yang “baik dan benar” namun perlu adanya bukti/tindakan nyata dari pembicaraan/pemikiran tersebut. Jadilah pribadi yang punya integritas dengan memperbanyak introspeksi diri; melakukan permenungan atas diri sendiri; menyeimbangkan antara pemikiran, perkataan & perbuatan. Sekian, dan.. Berkah Dalem :)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s