GOD is Too Good to be Mad or Whatever It’s Called (Insight tentang Allah setelah Proses Meditasi Semalam)

Bingung mau nulis tentang apa pada postingan kali ini. Banyak hal yang ingin dibagikan setelah proses selama beberapa hari terakhir. Bahkan mau nulis hal-hal apa saja yang didapatkan selama beberapa hari terakhir juga kesulitan. Hmm.. cerita tentang pengalaman meditasi semalam saja.

Meditasi yang aku lakukan semalam sengaja aku buat ber-interval dan dilakukan dalam jangka waktu panjang. Hasil rekam waktu dari program “endomondo” menunjukkan angka 1 jam 8 menit 49 detik, rekor durasi meditasi terlama yang pernah aku lakukan. Untuk interval, aku buat 5 menit pemanasan, 35 menit meditasi chakra (masing-masing chakra berdurasi 5 menit), 15 menit meditasi hening, dan 35 menit terakhir meditasi chakra lagi. Namun pada interval terakhir, aku berhenti ketika selesai meditasi di chakra “solar plexus” karena kakiku kesemutan hebat.

Pada postingan kali ini aku ingin membagikan pengalamanku ketika masuk ke interval ke-tiga, yaitu 15 menit meditasi hening. Di tengah meditasi aku mem-visualisasi-kan cahaya kasih Allah masuk ke dalam tubuh eterikku. Selama proses aku merasakan kelembutan energi dari cahaya kasih Allah, rasanya seperti dekapan seorang Kekasih, rasa nyaman dan ketenangannya tak terdefinisikan. Puji syukur pada Allah.

Sensasi lain yang aku rasakan, tubuhku seolah mengkerdil. Jika aku bandingkan dengan tinggi dipan (kurang lebih 1 meter), ukuran tubuhku menjadi setinggi itu, dalam keadaan duduk bersila. Selain itu mendadak aku mampu mendengar suara-suara yang sebelumnya tidak pernah aku dengar, salah satu suara percakapan. Aku tidak tahu persis isi percakapannya karena aku tidak mengalihkan fokus ke sana. Namun, yang pasti, aku merinding dan muncul perasaan gentar ketika itu. Kata seorang sahabat, “gentarnya wajar karena kamu mengalami sesuatu yang di luar kebiasaan meditasimu.”

Seusai proses meditasi tersebut, aku memaknai satu hal, terkait Allah, yang mendadak muncul begitu saja. Bahwa saking cintanya Allah pada diriku; kita (manusia), Dia tak pernah murka. Ketika kita mengalami hal buruk, semua itu murni akibat perbuatan kita. Allah selalu menunjukkan jalan terang-Nya pada kita, selalu sabar menuntun kita berjalan pada jalan tersebut, dan selalu mengingatkan ketika kita melenceng dari jalan tersebut, dengan penuh belas kasihan serta kesabaran. Allah terlalu baik untuk murka kepada manusia. Puji syukur pada Allah.

Pernahkah kita tersadar, Allah selalu mengingatkan kita ketika banyak perbuatan buruk kita lakukan? Bahwa hal buruk yang kita alami terjadi setelah peringatan-peringatan tersebut kita abaikan? Hal buruk tersebut adalah konsekuensi dari perbuatan buruk kita, seperti hukum karma, bukan perbuatan Allah. Peringatan-peringatan dari Allah merupakan bentuk cinta kasih-Nya agar kita tidak mengalami hal buruk akibat perbuatan kita. Namun berapa kali kita mengabaikannya hingga karma buruk menimpa kita? Kebaikan Allah malah kita balas dengan hujatan atau pernyataan “tidak terima” kepada Allah. Berapa kali kita menyalahkan Allah atas perbuatan buruk kita (sendiri)? Pantaskah?

Mulai sekarang, dengarkanlah peringatan Allah. Atau, lebik baik lagi jika kita terus berjalan dalam Jalan Terang. Sadarilah bahwa Allah terlalu baik untuk murka kepada manusia. Puji syukur pada Allah.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s