Kecemasan: Barrier Pikiran, Sumbat Lalu Lintas dan Aliran Energi (Belajar dari Sahabat)

Postingan kali ini akan berbagi tentang makna yang aku dapat dari sharing seorang sahabat. Beberapa waktu terakhir ia seringkali susah fokus dan mampet ide-idenya. Ia bercerita bahwa banyak kecemasan yang terlintas dalam pikiran ketika sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sepenangkapanku, kecemasan tersebut bersumber dari masa lalu dan reaksi yang pernah diberikan orang lain kepadanya.

Menurutku, seperti pada postingan sebelumnya, itu dipengaruhi oleh persepsinya terhadap masa lalu dan respon yang dia terima. Ia terjebak dalam kecemasan yang bersumber pada persepsi negatifnya (jika boleh dikatakan demikian) terhadap stimulus yang ada. Dampaknya, kreativitasnya pun terhambat, dan kesulitan (bahkan kehilangan) untuk fokus. Bayang-bayang masa lalu dan respon orang lain melekat kuat dalam pikirannya.

Dari sana aku mendapatkan pencerahan tentang sebuah sistem sederhana yang terjadi dalam pikiran kita (bahkan yang berpengaruh terhadap lalu lintas dan aliran energi kita). Bahwa kecemasan merupakan salah satu barrier. Ketika kita merasa cemas secara berlebih, secara tidak sadar kita membentuk penghalang bagi masuknya ide ke dalam pikiran kita. Begitu pun dengan sistem energi, kecemasan berpengaruh terhadap lalu lintas dan aliran energi positif di dalam tubuh eterik.

Proses tersebut dapat disamakan dengan barrier yang dibentuk alam kesadaran (kalo tidak salah ingat, tepatnya subconscious) ketika ada informasi yang hendak masuk. Barrier tersebut akan menyortir segala informasi yang berusaha menyusup ke alam bawah sadar. Salah satu bentuk barrier-nya adalah rasionalisasi. Para hipnotis tentunya sangat paham dengan proses di atas. Namun aku bukan pakar di bidang hipnosis, sehingga aku tidak akan banyak mengulas tentang hal tersebut.

Dari pengalaman sahabatku tadi, kita menyadari bahwa kecemasan (yang berlebihan) akan mengarahkan kita menjadi tidak produktif. Maka belajarlah untuk mengubah persepsi kita terhadap segala sesuatu. Utamanya terhadap stimulus-stimulus yang memunculkan “kegalauan” di dalam diri. Yakinilah bahwa semua stimulus sifatnya netral, dan persepsi kitalah yang mewarnai stimulus tersebut, sebagai positif/negatif. Jika kita bisa memilih yang positif, mengapa mencoba yang negatif?

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s