Meditasi sebagai Jalan Spiritualku

Perjalanan spiritualku yang sebenar-benarnya dimulai ketika aku menjalani meditasi (thanks to Lukito Pramuhadi yang sudah menjerumuskanku ke dalamnya, LOL). Selama menjalani & menekuni meditasi, banyak insight yang aku peroleh. Kesadaran demi kesadaran dibuka secara menakjubkan. Sebagian besar merupakan hal yang biasa namun maknanya jadi luar biasa ketika aku melihatnya dengan clarity. Puji Syukur kepada Allah!

Beberapa waktu belakangan aku banyak membagikan kesanku tentang meditasi di twitter (cek di favorite akunku: @adi_acong). Beberapa berkomentar ingin belajar bermeditasi, sejujurnya aku senang membacanya. Ketika aku memberi petunjuk tentang proses awal yang perlu dilakukan, banyak yang berkomentar “susah”. Faktanya, meditasi merupakan hal yang sederhana namun cukup rumit untuk dilakukan.

Kesulitan (aku lebih suka menyebutnya tantangan) yang banyak dihadapi oleh para pemula meditasi adalah fokus. Bagiku, fokus adalah urusan kedua, yang terpenting adalah menikmati meditasinya. Ketika kita bisa menikmati proses dalam bermeditasi, niscaya fokus akan begitu saja kita peroleh. Dalam mengatasi tantangan tersebut (dan setiap tantangan dalam bermeditasi) memang dibutuhkan keteguhan hati dan ketekunan.

Pada postingan ini aku tidak akan banyak menuliskan tentang teknik-teknik dalam bermeditasi (biarlah itu aku bahas pada postingan selanjutnya). Yang aku tuliskan adalah kesan-kesanku selama bermeditasi, tentang manfaat yang aku rasakan. Ketika kita hendak memulai sesuatu, aku yakin ada intensi tertentu yang mengikuti dan mendorong kita melakukan hal tersebut. Apapun intensi kita dalam bermeditasi, jagalah itu! karena intensti tersebut menjadi bahan bakar kita dalam menekuni meditasi. Jika memang tidak ada intensi tertentu, atau hanya sekedar iseng, tidak ada salahnya tetap mencoba bermeditasi.

Pengenalan diri. Manfaat pertama yang aku rasakan ketika mulai bermeditasi adalah kepekaan terhadap apapun yang terjadi di dalam diri. Aku menyadari setiap emosi yang muncul pada peristiwa dan pengalaman tertentu yang terjadi (di masa lalu dan saat ini), pada stimulus-respon yang “dilemparkan” orang lain kepadaku, pada pikiran-pikiran yang terlintas, dan sebagainya. Selain itu, intensitas dari emosi tersebut juga dapat aku rasakan, seberapa dalam aku senang; sedih; marah; kecewa; takjub; dll. Termasuk respon yang dimunculkan oleh fisik dan psikis ketika emosi tersebut ada. Rasa tenang dan lega saat senang, rasa sakit ketika sedih, marah atau kecewa, dll.

Penerimaan diri. Setelah proses pengenalan diri terjadi, manfaat selanjutnya yang aku terima adalah menerima apapun yang ada di dalam diri sebagai milikku. Apa yang buruk, juga apa yang baik di dalam diriku sudah tertanam, dan menjadi bagian dalam hidupku. There’s no turning way, just turning point. Aku tidak dapat mengulang kembali segala sesuatu yang sudah membentuk diriku. Aku hanya bisa memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki persepsiku atasnya, dan melanjutkan hidup. Namun dalam prosesnya, aku bersyukur karena aku juga diberi kesempatan untuk menjalani pengalaman serupa yang pernah aku alami di masa lalu. Aku menganggapnya sebagai kesempatan remedi yang diberikan Allah untuk memperbaiki penerimaan diriku.

Penyelarasan diri. Manfaat lain yang aku terima adalah menyeimbangkan setiap aspek dalam diriku. Pada titik ini aku mengalami proses menyamakan apa yang dipikirkan dengan apa yang dirasakan dan dilakukan. Hal tersebut juga berlaku pada perasaan yang disamakan dengan pikiran-perilaku, dan perilaku yang disamakan dengan pikiran-perasaan. Bagiku, proses ini diikuti oleh banyak tantangan, sampai saat ini ada beberapa aspek dalam diriku yang masih berjuang untuk diselaraskan. Aku mengalami banyak jatuh-bangun dalam proses ini, memang dibutuhkan keteguhan hati dan ketekunan. Namun saat penyelarasan terjadi, aku merasakan ketenangan batin yang luar biasa, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti fokus untuk makan; mandi; buang air, dll.

Sebelum mengakhiri postingan ini, aku bagikan tahapan awal yang bisa dilakukan oleh pemula meditasi. Berusahalah untuk “diam”, letakkan sejenak semua pikiran dan perasaan yang ada. Nikmati keadaan “diam” tersebut, rasakan setiap pengalaman dan sensasinya. Coba lakukan secara bertahap, mulai dengan durasi 5 menit, kemudian naik menjadi 10 menit, dan berangsur meningkat sesuai dengan kehendak batin. Bangunlah keteguhan hati dan ketekunan dalam bermeditasi, serta jagalah itu.

4 thoughts on “Meditasi sebagai Jalan Spiritualku

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s