Pengalaman Menjadi Relawan Sampang II (Bagian Satu)

Jum’at lalu (31/08) Aliansi Lintas Iman Jombang yang terdiri dari Komunitas StaraMuda, Gusdurian dan Prasasti mengirimkan sejumlah barang bantuan & beberapa relawan ke lokasi pengungsian warga Syiah di Sampang. Barang yang dikirimkan berupa pakaian (luar dan dalam), mie instan, air mineral, biskuit, susu cair, perlengkapan shalat, selimut, dan pembalut. Bantuan dan relawan diberangkatkan oleh wakil pimpinan PCNU Jombang dan sekretaris MUI Jombang pada pukul 15:00 WIB dan tiba di GOR Sampang (lokasi pengungsian) pukul 21:00 WIB. Bantuan dan relawan diterima oleh rekan dari CMARS, salah satu LSM yang tergabung dalam Tim Relawan Kemanusiaan Sampang II.

Saya adalah salah satu relawan perwakilan dari Komunitas StaraMuda yang berangkat ke pengungsian. Sesampainya di sana pada malam itu (31/08 pukul 21:00 WIB) kami disambut oleh Arimbi, relawan dari CMARS. Mbak Ndut (panggilan Arimbi) menuturkan bahwa salah satu hambatan para relawan ketika berinteraksi dengan pengungsi adalah faktor bahasa. Mayoritas pengungsi hanya memahami bahasa Madura, sedangkan sedikit relawan yang mampu berbahasa Madura. Selain itu, lama kelamaan kondisi psikologis pengungsi makin lama makin menurun, pandangan mereka kosong dan tidak fokus ketika diajak berbicara.

Keesokan harinya (01/09) saya mulai melakukan tugas sebagai relawan. Saya membersihkan pelataran di luar GOR, membantu relawan lain mengangkut bantuan logistik ke dalam GOR, dan melakukan observasi-interviu terkait kondisi psikologis pengungsi. Ketika turun lapangan untuk melakukan interviu, saya sungguh merasakan hambatan yang dikatakan Mbak Ndut, yaitu faktor bahasa. Selain itu saya menangkap bahwa para pengungsi merasa “tidak aman” ketika berinteraksi dengan “orang asing” meskipun mereka adalah relawan. Beberapa pengungsi yang berusaha saya dekati memunculkan reaksi bahasa tubuh yang condong ke belakang, berusaha mengalihkan pandangan mata, bahkan ada yang pergi begitu saja. Saya pun merasa putus asa untuk menggali data para pengungsi padahal saya sangat membutuhkannya dalam rangka melakukan asesmen untuk membuat program “Trauma Healing”. Meskipun belum menemukan jalan keluar, saya masih berusaha memutar otak agar bisa menembus “benteng pertahanan” para pengungsi, juga mencari jalan keluar untuk melewati hambatan dalam berkomunikasi.

Masih banyak hal yang bisa saya bagikan terkait keadaan pengungsi, dan konflik yang terjadi hari itu (01/09) antara relawan dengan kadinsos kab Sampang. Namun demikian untuk kesempatan kali ini hanya tulisan pendek ini yang bisa saya buat. Saat ini sangat dibutuhkan relawan yang punya komitmen untuk mau mendampingi para pengungsi, secara psikologis, juga mendampingi beberapa orang ketika berlangsung pencatatan BAP oleh pihak kepolisian. Relawan lain–logistik, media center, dsb juga dibutuhkan karena jumlah relawan yang ada sangat terbatas. Sekian.

2 thoughts on “Pengalaman Menjadi Relawan Sampang II (Bagian Satu)

  1. saya sih belum pernah pengalaman utk jadi relawan tp klo sy lihat kondisi pengungsi di sana berbeda.
    agak susah memang klo menghadapi pengungsi yg lagi konflik drpd pengungsi bencana. klo pengungsi bencana alam biasanya malah deket dgn relawan. klo pengungsi konflik susah percaya sm orang asing krn trauma yg diakibatkan manusia/orang jg. sukses terus ko utk kegiatannya. salam

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s