Mari Belajar Tentang Atribusi

Penyakit lama kumat lagi, lama tidak ngopeni blog sampai berdebu dan bersawang. Saya mohon dimaklumi, susahnya mengatur mood untuk menulis. Namun saya seharusnya tidak mengkambinghitamkan mood atas kemalasan saya menulis. Saya terlalu sering beratribusi eksternal atas kegagalan, itu tidak sepenuhnya tepat.

Berbicara tentang atribusi eksternal, saya menduga tidak banyak dari para pembaca yang tahu, apalagi paham, istilah tersebut. Saya mohon maaf bila dugaan saya salah, tidak ada maksud untuk meremehkan pengetahuan para pembaca. Saya menduga demikian karena saya berkaca dari pengalaman saya berinteraksi dengan teman-teman sepermainan. Banyak dari mereka bertanya ketika saya mengucapkan istilah atribusi.

APA ITU ATRIBUSI?
Sebelum saya memberikan informasi tentang atribusi eksternal, baiknya saya paparkan terlebih dahulu konsep tentang atribusi, dan jenis-jenisnya. Dalam psikologi, atribusi bermakna kecenderungan seseorang untuk membentuk pemahaman tentang penyebab tertentu dalam setiap kejadian yang dia alami. Misal, ketika saya memperoleh teguran dari atasan karena kelalaian saya dalam menyelesaikan tugas, saya berdalih bahwa tugas tersebut sudah berusaha saya selesaikan, namun belum selesai karena laporan dari bagian accounting belum diserahkan kepada saya. Dalih yang saya ungkapkan kepada atasan, itulah atribusi.

JENIS-JENIS ATRIBUSI
Ada dua jenis atribusi, eksternal dan internal. Penjelasan tentang atribusi eksternal terpampang pada contoh kasus saya di atas, yaitu ketika saya menjadikan laporan bagian accounting sebagai dalih kelalaian saya. Atribusi eksternal merupakan kecenderungan seseorang untuk mencari penyebab yang berasal dari luar dirinya atas sebuah peristiwa yang terjadi. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan atribusi eksternal pasti menggunakan lingkungan sekitarnya sebagai alasan atas terjadinya sebuah peristiwa. Bila para pembaca masih belum memahami konsep atribusi eksternal, saya harap penjelasan tentang atribusi internal bisa membantu untuk lebih memahaminya.
Atribusi internal merupakan kecenderungan seseorang untuk mencari penyebab yang berasal dari dalam dirinya atas sebuah peristiwa yang terjadi. Contohnya tetap menggunakan kasus saya di atas, hanya saja diubah dalih (alasan)-nya. Ketika saya beralasan bahwa saya sedang dalam kondisi pikiran yang stressful sehingga tugas tersebut belum selesai, itulah atribusi internal. Atau, contoh alasan yang lebih mudah dalam menjelaskan atribusi internal, karena saya malas maka tugas tersebut belum terselesaikan. Malas berasal dari dalam diri saya sendiri, maka malas adalah bentuk atribusi internal saya.

Bagaimana penjelasan saya tentang atribusi dan jenis-jenisnya? Bila para pembaca masih belum memahaminya, silahkan bertanya melalui kotak komentar di bawah artikel ini, atau kirimkan email pertanyaan ke adie.atjong@gmail.com dengan subject: [tanya atribusi]. Terima kasih telah membaca artikel saya, semoga bisa menambah wawasan para pembaca. Tuhan memberkati! (aa)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s