PROFIL KASUS Diskriminasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Terkait Penerbitan Kartu Keluarga atas Swat Lian dan Swat Lioe

PROFIL KASUS

Diskriminasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

Terkait Penerbitan Kartu Keluarga atas Swat Lian dan Swat Lioe

 

Swat Lian (50) dan Swat Lioe (44) adalah kakak beradik yang tinggal di Jl. Seroja depan Balai Desa Jombang. Rumahnya sudah lama roboh karena tidak terawat. Keduanya tidak punya  pekerjaan tetap dan kini mereka tinggal berdua dalam kos-kosan sempit di sekitar jalan Seroja.

 

Menurut dokumen yang ada, keduanya merupakan anak dari Liem An Nio, seorang ibu keturunan Tionghoa yang telah menyatakan menjadi warga Negara Indonesia pada tanggal 29 Desember 1961 di Pengadilan Negeri Jombang. Ibu mereka telah meninggal dunia pada  8 September 1985 berdasarkan akta  kematian yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil dengan nomor  17/U/1985 tertanggal 17 Oktober 1985. Pelacakan dokumen kependudukan yang dipunyai keduanya menunjukkan bahwa Swat Lian dan adiknya lahir di Jombang berdasarkan akte kelahiran yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri dengan nomor  3/1962 tertanggal 31 Januari 1962 dan nomor 18/1968 tertanggal 11 April 1968. Swat Lia pernah berumah tangga dengan Iwan Setiawan namun bercerai seperti yang dijelas oleh Akte Cerai yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Jombang dengan nomor 445/AC/2001/PA Jbg.

 

  1. Tanggal 13 Juni 2012, keduanya datang ke Lakpesdam NU mengadukan persoalan sulitnya mengurus KK. Sejak Februari 2012 mereka berusaha mengurusi PERGANTIAN Kartu Keluarga (KK) lama karena namanya tidak tercantum dalam pemanggilan foto e-KTP. Meski harus bolak-balik lebih dari 5 kali ke Dispendukcapil keduanya TELAH MELENGKAPI berkas yang diminta oleh staff Dispendukcapil. (Catatan, mereka diharuskan melengkapi  macam dokumen padahal hanya perlu 3 dokumen saja menurut UU 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan). Meskipun demikian, keduanya tetap tidak bisa mendapatkan KK kecuali mereka harus membayar Rp. 1.000.000/orang untuk biaya minggiri (membuat catatan pinggir)KARENA mereka adalah TIONGHOA – menurut staf Dispendukcapil.
  2. Melalui Radar Jombang yang terbit pada tanggal 14 Juni 2012 Bunawi (staff Dispendukcapil) menyatakan bahwa biaya Rp. 1 juta tersebut berkaitan dengan nama dan kewarganegaraan
  3. Pada tanggal 14 Juni 2012, dengan ditemani oleh beberapa anggota Prasasti dan INTI, keduanya mendatangi Dispendukcapil. Rombongan ditemui oleh Sdri. L. Agustin, Sdri. Sri Winarsih, Sdri. Atik, Sdr. Bunawi, dan Sdr. Joko. Terjadi diskusi yang cukup alot. Korban meminta klarifikasi terkait uang Rp. 1.000.000. Pihak Capil menjelaskan bahwa uang itu merupakan denda atas keterlambatan pencatatan. Dispendukcapil tidak bisa menjelaskan kesalahan kedua perempuan tersebut sehingga harus didenda. Menurut Atik keduanya merupakan WNI karena ibunya merupakan WNI. Namun Atik dan (nampaknya seluruh perwakilan Dispendukcapil) tidak bisa legowo menerima KeWNIan keduanya. Mereka masih ngotot mengenakan denda Rp. 1.000.000 tapi kini alasannya berbeda; Swat Lian dan adiknya harus tetap membayar karena ada tulisan “Golongan Tionghoa” di akte kelahiran yang dikeluarkan oleh PN. Jombang. Kadispendukcapil tidak bisa menjawab ketika ditanya apakah akte kelahiran tersebut membuktikan bahwa keduanya merupakan WNA yang oleh karenanya harus melakukan perubahan kewarganegaraan terlebih dahulu? Sdri. Laily A hanya menjawab mereka adalah Golongan Tionghoa. Rombongan menilai pernyataan Kadispendukcapil ini membingungkan karena tulisan “Golongan Tionghoa”  tidak lebih dari sekedar implikasi dari politik segregasi kewarganegaraan dalam pencatatan sipil yang diatur oleh regulasi lama (Lihat Staatsblad  1847:23, Staatsblad  1946:136, Staatsblad 1920:751, Staatsblad 1939:288). Regulasi segregatif terkait kewarganegaraan seperti yang diatur oleh perundangan yang disebut di atas TELAH DIHAPUS oleh Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Namun Dispenduk tetap bersikukuh dengan berlindung dibalik Perda 10/2010 Kabupaten Jombang.
  4. Hearing bubar setelah Kadispendukcapil berjanji akan menyelesaikan ini dengan cara berkomunikasi dengan Jakarta. Jika pada akhirnya Dispendukcapil tetap berpendirian bahwa keduanya adalah WNA, korban meminta agar pendirian tersebut dituangkan dalam surat formal agar bisa dijadikan dasar. Hingga saat ini Dispendukcapil tidak pernah menghubungi keduanya apalagi mengirim informasi terkait hasil konsultasi dari Jakarta
  5. Tanggal 19 Juni 2012 sangkaan pelanggaran terhadap kedua warga Tinghoa ini berubah lagi. Melalui Radar Jombang Sdri Sri Winarsih (Kabid Pencatatan Sipil) menyatakan  keduanya masih tetap dikenakan denda. Kali ini Swat Lian dan Swat Liouw dianggap telah mewarisi “kesalahan turunan” karena ibu mereka –meski telah meninggal dunia pada tahun 1985- dianggap telat mencatatkan pengesahan perubahan kewarganegaraan ke dispenduk capil.

 

Ada beberapa catatan penting dari kasus ini:

  1. Berubah-rubahnya alasan pengenaan denda/biaya sebesar Rp. 1.000.000 kepada kedua warga Tionghoa ini menggambarkan dengan jelas miskinnya paradigma pelayanan tanpa diskriminasi dan buruknya penguasaan regulasi kewarganegaraan maupun administrasi kependudukan dari seluruh pengambil kebijakan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
  2. Dengan berlindung dibalik Perda administrasi kependudukan dan Telah terjadi arogansi dan diskriminasi pelayanan administrasi kependudukan di Kabupaten Jombang yang bersifat sistemik dan endemik terhadap sebagian warga Tionghoa.
  3. Kuat dugaan praktek pembebanan biaya/denda sejuta telah berlangsung sejak lama dan sudah memakan banyak korban warga Tionghoa.
  4. Kasus ini merupakan serpihan kecil yang mencuat dari buruknya kualtas layanan yang ada Dispendukcapil secara keseluruhan. Sudah saatnya Komisi A menggunakan kewenangannya untuk mensupervisi secara lebih serius kinerja SKPD ini.

 

 

Dibuat oleh Aan Anshori.

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s