Refleksi Hari Lahir Pancasila

Tulisan ini merupakan rangkuman dari diskusi yang diadakan oleh StaraMuda Community, yang mengangkat tema: “Refleksi Hari Lahir Pancasila”.

– Sejarah Pancasila:
Pancasila terlahir melalui perjuangan yang panjang–terjadi tarik-ulur di antara para pemikirnya (Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H. Agus Salim, Mr. Ahmad Subardjo, Wachid Hasjim, dan Mr. Muhammad Yamin). Pada awalnya, Pancasila terbentuk dengan pertimbangan mayoritas rakyat Indonesia yang memeluk agama Islam, sehingga pada sila pertama berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Formulasi tersebut mendapat masukan dari rakyat Indonesia bagian timur, yang mempertimbangkan adanya komponen non-muslim, sehingga sila pertama direvisi menjadi, “Ketuhanan yang Maha Esa”. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pancasila bukan milik warga mayoritas/sekelompok orang saja, Pancasila mewakili semangat seluruh rakyat Indonesia, yang sangat beragam karakteristiknya.

Penyusunan Pancasila juga berusaha merangkul kepentingan tiga ideologi besar yang berkembang di Indonesia saat itu–nasionalis, agamis, dan sosialis-komunis. Sila pertama berusaha menjawab kepentingan kelompok agamis, sila ketiga untuk kelompok nasionalis, dan sila kelima untuk kelompok sosialis-komunis. Sedangkan sila kedua dan keempat merupakan soko guru perikehidupan masyarakat bangsa Indonesia sejak berabad-abad sebelum merdeka (jaman kerajaan), yaitu gotong royong.

Jadi, Pancasila dibuat dengan mempertimbangkan banyak kepentingan dan keberagaman di Indonesia, sehingga rakyatnya dapat hidup damai dan sejahtera. Namun demikian, apakah Pancasila masih relevan saat ini?

– Pancasila Pada Kondisi Kekinian:
Secara formal, Pancasila disosialisasikan melalui pelajaran di sekolah. Namun keberadaan sub-bidang studi yang berusaha mengkaji Pancasila lebih dalam, makin lama makin terdegradasi. Pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” diganti dengan “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan” kemudian “Pendidikan Kewarganegaraan”. Pendidikan Kewarganegaraan dirasa kurang (atau sama sekali tidak) mengkaji Pancasila, yang dikaji hanyalah perihal berwarganegara. Selain itu, Pancasila hanya diucapkan semata ketika upacara bendera, tanpa ada usaha/program sekolah yang berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian keluarga (khususnya orangtua) berusaha menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak mereka, meski penyampaiannya tidak secara eksplisit. Para orangtua selalu menasehati anak mereka untuk hidup gotong royong, saling menghargai, toleran, dan lain sebagainya tanpa mengucap bahwa itu adalah nilai-nilai Pancasila. Jadi, secara formal kita memperoleh sosialisasi tentang Pancasila ketika kita duduk di bangku sekolah, sedangkan secara praktis kita memperolehnya dari orangtua kita.

Ketika kami menilik Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kami menemukan bahwa para pemimpin bangsa ini kurang mengamalkan Pancasila. Terlihat dari pembuatan kebijakan yang seringkali menguntungkan satu golongan dan merugikan golongan lain. Bahkan pembuatan kebijakan tersebut tidak dilandasi dengan semangat musyawarah mufakat, melainkan voting. Belum lagi fenomena korupsi yang sedang marak di negara ini. Gambaran pemimpin yang seperti itu sungguh jauh dari semangat Pancasila.

Banyak pihak sudah mengetahui fakta bahwa nilai-nilai Pancasila semakin lama semakin terkikis. Namun sedikit pihak yang mau bangkit dan bertindak memperbaiki fakta tersebut. Adakah Pancasila mulai tergeser oleh ideologi lain? Ataukah Pancasila mulai digerogoti oleh mental “tidak sehat” dari oknum-oknum tidak bertanggungjawab? Hal tersebut bukan fokus kami karena sebagai anak muda generasi bangsa, kami merasa bahwa tindakan konkrit untuk membangkitkan kembali semangat Pancasila lebih penting.

– Action-plan StarMuda Dalam Menjaga Relevansi Pancasila:
Kami bersepakat bahwa nilai-nilai Pancasila yang “secara tidak sadar” ditanamkan oleh orangtua kami WAJIB kami transfer kepada orang-orang di sekitar kita, kepada masyarakat, dan lebih jauh lagi–kepada anak cucu kami nantinya. Melalui pemikiran, sikap, perkataan, dan tindakan kami sehari-hari. Bukan sekedar berkampanye yang tong kosong nyaring bunyinya, meskipun kami juga telah merancangkan berbagai strategi kampanye.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s