Menuju Keadilan dan Kesetaraan Bagi Perempuan

International Women Day. Ya, dua hari yang lalu–dan setiap tanggal 8 Maret, kita (khususnya perempuan) memperingati hari perempuan internasional. Setiap memperingati hari-hari yang berkaitan dengan perempuan, entah dalam skala lokal, nasional, maupun internasional, saya selalu berpikir: apakah perempuan-perempuan, khususnya perempuan Indonesia, sudah mendapatkan keadilan dan kesetaraan?

Bila melihat data yang ada, kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan di Indonesia memiliki angka yang tinggi. Pada tahun 2011, Komnas Perempuan mencatat ada 119.107 kasus. Di luar data tersebut, angkanya bisa melonjak naik. Ada perempuan yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual tidak berani melapor karena merasa malu / sedang tertekan secara psikologis, sehingga tidak terdata. Bahkan di luar kasus tersebut, banyak perempuan yang perannya didiskreditkan. Contohnya dalam organisasi, seberapa banyak suara perempuan yang diperhitungkan? Sedikit, atau bahkan tidak ada (dalam artian, ada organisasi yang tidak menerima keberadaan perempuan di dalamnya, apalagi suaranya). Bila melihat fakta-fakta tersebut, saya bisa menjawab pertanyaan saya sebelumnya: apakah perempuan-perempuan (Indonesia) sudah mendapatkan keadilan dan kesetaraan? BELUM!

Saya heran, apa yang membuat perempuan begitu dimarginalkan, entah oleh individu, komunitas, ataupun sistem? Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada karya ilmiah yang pernah saya tulis sebagai syarat kelulusan di perguruan tinggi. Saya menemukan bahwa ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang dialami perempuan terjadi karena ada sistem yang berusaha mendiskreditkan perempuan, yaitu budaya patriarki. Budaya tersebut, secara sengaja atau tidak sadar, sudah mendarah-daging dalam kehidupan kita sehingga setiap pemikiran, sikap, dan tindakan kita dipengaruhi oleh budaya tersebut. Termasuk dalam memperlakukan perempuan. Tentang apa itu budaya patriarki bisa dibaca pada tulisan saya sebelumnya, di https://adieatjong.wordpress.com/2009/11/08/pengantar-menuju-dunia-patriarki/

Cukuplah kita mengetahui salah satu kemungkinan sumber pendiskreditan perempuan, sekarang saatnya kita fokus pada solusi agar perempuan-perempuan (khususnya di Indonesia) bisa mendapatkan perlakuan yang adil dan setara. Menurut saya, bagi para laki-laki, berhentilah menganggap perempuan sebagai pribadi yang lemah, tak berdaya, atau apapun stigma yang ada di keluarga, masyarakat, bahkan negara sekalipun yang berusaha mendiskreditkan perempuan. Kalian perlu tahu bahwa perempuan itu adalah pribadi yang sangat berdaya, bahkan bisa jadi lebih berdaya daripada kita, laki-laki. Salah satu buktinya, perempuan bisa menjalankan peran ganda: menjadi ibu rumah tangga, mengandung dan melahirkan anak, mengurus anak, menjalani pekerjaannya, dan sebagainya.

Akhir kata, perempuan itu sangat berdaya, mereka adalah pribadi yang HEBAT! Tuhan memberkati!

Sumber Data: http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9813-pada-2011-terjadi-119107-kasus-kekerasan-pada-perempuan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s