Pengantar Menuju Dunia Patriarki

Dunia ini adalah dunia laki-laki. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa dunia ini didominasi oleh laki-laki. Saya menduga akan banyak kontroversi terkait pernyataan tersebut, namun tak dapat dipungkiri bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Mayoritas pemimpin negara dan pemimpin keagamaan yang terpilih di dunia adalah seorang laki-laki. Pada ruang lingkup yang lebih kecil, yaitu keluarga, ditetapkan bahwa kepala keluarga adalah seorang laki-laki. Singkatnya, banyak posisi penting dikuasai oleh laki-laki, baik pada ruang lingkup yang luas, seperti dunia; maupun ruang lingkup yang lebih sempit, seperti keluarga.

Banyaknya posisi penting yang dikuasai oleh laki-laki praktis berdampak pada pembuatan kebijakan-kebijakan yang banyak memperhatikan suara laki-laki daripada perempuan. Namun yang sangat disayangkan, banyak dari kebijakan-kebijakan tersebut hanya mengedepankan kepentingan laki-laki, dan mendiskriminasi kepentingan perempuan. Misalnya saja mengenai ruang gerak, laki-laki lebih didukung untuk bergerak pada ruang publik daripada perempuan yang lebih diharapkan untuk bergerak pada ruang domestik. Ruang publik diibaratkan sebagai kehidupan yang bebas bergerak sedangkan ruang domestik diibaratkan sebagai kehidupan yang terpenjara, dengan keterbatasan gerak. Dalam konteks tersebut laki-laki lebih diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya daripada perempuan yang terbatas pada hal-hal domestik, seperti mengurus rumah, merawat anak, memasak, dan lain-lain. Walaupun pada akhirnya banyak perempuan yang bergerak di ruang publik, banyak pula perempuan yang dicemooh oleh masyarakat karena hal tersebut, namun juga tidak sedikit yang mendapat dukungan. Jika memperhatikan potret perempuan tersebut kita dapat memperkirakan besarnya pengaruh dari kebijakan yang dibuat oleh laki-laki, bagaimana masyarakat memandang bahwa kebijakan tersebut adalah kondisi ideal, dimana laki-laki memang harus berada di ruang publik sedangkan perempuan diharapkan berada di ruang domestik.

Dominasi oleh laki-laki seperti yang disebut di atas seringkali disebut sebagai patriarki. Dalam COED 11th Edition, definisi patriarki adalah “suatu sistem kemasyarakatan atau pemerintahan yang dipimpin oleh laki-laki”. Dalam definisi tersebut tersirat bahwa laki-laki memiliki power yang memampukan mereka untuk memimpin di dalam sistem kemasyarakatan maupun pemerintahan. Artinya dalam patriarki terdapat satu aspek penting, yaitu power. Definisi lain ditawarkan oleh Hartmann (1981), patriarki merupakan “sebuah susunan hubungan sosial yang hierarkis di antara laki-laki, yang memampukan mereka untuk mendominasi perempuan”. Dalam definisi tersebut terdapat pula aspek power yang memungkinkan laki-laki untuk mendominasi perempuan, namun ada penambahan pada hubungan sosial yang hierarkis. Yang artinya, patriarki menciptakan sebuah sistem hierarki yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Karena laki-laki mampu mendominasi perempuan, praktis laki-laki menempati posisi teratas dalam sistem hierarki tersebut. Namun ada penafsiran lain, karena laki-laki berada pada posisi teratas dalam sistem hierarki tersebut, maka laki-laki mampu mendominasi perempuan. Sehingga muncul pertanyaan, power yang dimiliki oleh laki-laki praktis dimilikinya karena mereka memang terlahir untuk menjadi powerful atau karena mereka berada pada puncak hierarki? Walaupun tujuan penelitian ini bukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun itu menjadi pertanyaan yang menarik karena pada akhirnya dapat membantu kita untuk memahami bagaimana laki-laki memperoleh kekuasaan. Definisi dari Herzog dan Yahia-Younis (2007) menawarkan aspek lain, menurut mereka “patriarki merupakan sebuah sistem gender yang menentukan peran dan hubungan antara laki-laki dan perempuan, yang pada akhirnya menciptakan hierarki di antara dan di dalam kategori gender”. Aspek tersebut adalah penentuan peran dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Patriarki mengatur laki-laki dan perempuan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Dari beberapa definisi yang saya tampilkan di atas, saya menyimpulkan ada tiga aspek yang dapat digunakan sebagai kerangka berpikir dalam memahami patriarki: (1) patriarki merupakan sebuah sistem kekuasaan yang berpusat pada laki-laki, (2) patriarki merupakan sebuah sistem hierarkis gender, baik antara laki-laki dan perempuan maupun di dalam keduanya, dan (3) patriarki menentukan peran gender laki-laki dan perempuan, dan mengatur hubungan di antara keduanya.

One thought on “Pengantar Menuju Dunia Patriarki

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s