Laki-Laki dan Maskulinitas: Pendahuluan

Setelah sekian lama membiarkan blog ini nganggur, akhirnya muncul juga inspirasi untuk memulai kembali aktivitas tulis menulis. Tidak jauh-jauh dari kehidupan saya, tema yang ingin saya tulis kali ini adalah tentang laki-laki dan maskulinitas, tidak jauh-jauh karena tema tersebut merupakan topik yang saya angkat dalam tugas akhir demi mendapatkan SK kelulusan di bidang Psikologi. Sejujurnya tema tersebut bukanlah wilayah yang saya kuasai, bahkan awalnya bukan wilayah yang menarik perhatian saya, tema tersebut (pada akhirnya) saya pilih menjadi topik tugas akhir karena ajakan dari seorang kawan dan karena kebuntuan ide pada saat itu, jadi harap maklum jika penjelasan setelah ini masih bersifat common sense, berdasarkan hasil pengamatan dan mengingat-ingat sedikit literatur yang pernah dibaca.

Laki-laki, dalam dunia patriarki, dianggap sebagai pihak yang superior, yang memiliki otoritas lebih untuk menguasai sekelilingnya (walaupun perbedaan ras dan kelas sosial masih menjadi pertimbangan bahwa tidak semua laki-laki memiliki otoritas tersebut). Dalam masyarakat umum berkembang sebuah keyakinan bahwa laki-laki adalah ‘kepala’, laki-laki adalah ‘pemimpin’, laki-laki adalah ‘pusat’. Keyakinan tersebut pada akhirnya membawa pada keangkuhan laki-laki, karena dianggap sebagai pihak nomor wahid, tidak banyak laki-laki yang berlaku semena-mena terhadap lingkungan sekitarnya, terlebih kepada partner hidupnya, yaitu perempuan. Bahkan dalam aspek keagamaan, yang notabene menjadi aspek tertinggi yang mempengaruhi kehidupan manusia, banyak ayat-ayat dalam kitab suci yang memberikan hak lebih kepada laki-laki ketimbang perempuan (mengenai hal ini, akan saya paparkan pada tulisan berikutnya), yang pada akhirnya menjadi senjata untuk mensubordinasi perempuan. Jadi, patriarki merupakan sebuah sistem budaya yang berusaha menjadikan laki-laki sebagai pihak yang superordinat, dan perempuan sebagai pihak yang subordinat.

Superordinasi terhadap laki-laki menumbuhkan tuntutan agar laki-laki nampak superior, seorang laki-laki diharuskan untuk tampil maskulin, jika tidak maka dia bukanlah laki-laki. Inilah yang menjadi titik awal dari tema tugas akhir saya, bahwa saya ingin mematahkan anggapan tersebut, dimana untuk menjadi laki-laki, seorang laki-laki tidaklah harus menjadi maskulin.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s