Usiaku Hampir 20+

Sekarang udah bulan Desember, akhir bulan depan usiaku menginjak 21 tahun, komentarku cuma satu “It’s time to collect some money”. Aku mulai menyadari bahwa tunjangan dari ortu tidak lah cukup, dan mulai sungkan untuk minta tunjangan tambahan kalo lagi kekeringan. Kini saatnya aku berusaha sendiri untuk memperoleh pendapatan. Aku HARUS mandiri, tak lagi bergantung pada ortu atau sodara lainnya. Minimal aku tidak lagi merepotkan soal biaya hidup, aku tidak mau mengganggu hidup siapa pun hanya demi kekeringan yang aku alami. Anda yang membaca ngerti toh maksudnya kekeringan? Maksudnya adalah kehabisan uang tabungan :-P

Soal pendapatan sendiri, aku sudah memulai sejak bulan kemarin. Bisa anda baca di https://adieatjong.wordpress.com/2008/11/20/bisnis-kecil-kecilan-banget-sekalian-promosi/ Namun hasil yang aku dapatkan dari bisnis kecil-kecilan tersebut ndak mencukupi. Dari percakapan dengan seorang kawan, aku memperoleh pencerahan. Bahwa selain berusaha mencari pendapatan sendiri, aku juga harus mengelola keuangan, selain itu aku harus menyadari apa saja yang merupakan aset dan apa saja yang merupakan liabilitas (maaf kalo istilahnya salah, he). Penjelasan singkatnya begini, aset merupakan apa saja yang dapat menambah kekayaanku dan liabilitas merupakan apa saja yang mengurangi kekayaan. Ketika kawan tersebut menerangkan soal aset dan liabilitas, aku teringat sebuah buku yang pernah kubaca, judulnya Rich Game. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa total kekayaan dihitung dari total aktiva dikurangi total pasiva. Yang termasuk dalam aktiva adalah aset,  sedangkan yang termasuk dalam pasiva adalah biaya (termasuk liabilitas). Mungkin penjelasan di atas terlalu abstrak bagi sebagian dari anda. Aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut di sini karena tujuan tulisan ini bukan membahas tentang hal tersebut tapi refleksiku mengenai usiaku yang hampir 20+.

Sedikit curhat. Walaupun usiaku hampir 20+ namun keluargaku masih memperlakukan aku seperti anak bawang. Setiap keluar dari rumah selalu diberitahu supaya jangan pulang larut malam, bahkan terkadang masih suka dilarang. Dalam bergaul pun mereka masih sering mengatakan supaya aku hati-hati, bahkan melarangku untuk bergaul dengan beberapa kelompok masyarakat. Aku sering berpikir, “apakah aku belum pantas dianggap dewasa?” Dan lebih lanjut berpikir, “Pada kondisi seperti apa aku bakal dianggap dewasa?” Aku sedikit berspekulasi dalam menjawab pikiran-pikiranku tersebut. Salah satunya tentang mencari pendapatan sendiri. Aku berpikir bahwa ketika aku mampu mencari pendapatan sendiri, keluargaku akan mengubah konstruk kognitif yang selama ini (mungkin) ada dalam pikiran mereka, yang membuat mereka belum mampu menganggapku dewasa. Saat inilah aku mencoba untuk membuktikan hipotesisku tersebut, dengan mencoba mencari pendapatan sendiri dan tidak lagi meminta tunjangan ketika aku kekeringan.

Sejujurnya aku muak dengan perlakuan keluarga terhadapku. Aku tak mau lagi tergantung (terikat) dengan mereka. Aku ingin membebaskan diri dari ketergantungan terhadap mereka. Dan saat inilah aku HARUS mulai mencoba.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s