UBAYA: Sebuah Kebanggaan dan Penyesalan

Seandainya aku tidak masuk ke UBAYA mungkin aku tidak menjadi individu seperti sekarang. Bahkan seandainya saja aku tidak masuk ke PSIKOLOGI UBAYA, aku juga tidak yakin bisa menjadi individu seperti sekarang. Banyak waktu yang telah aku lewati bersama civitas akademika di PSIKOLOGI UBAYA, tentu banyak juga pengalaman dan pengetahuan yang aku dapatkan dari mereka. Terima kasih kalian telah membukakan mataku akan arti kehidupan yang sebenarnya, hidup tidak hanya bersenang-senang, juga tidak hanya bersusah-susah, hidup itu dinamis.

UBAYA.. Adakah yang patut dibanggakan dari UBAYA? Aku rasa belum ada karena aku tidak ikut menyumbangkan keringat dalam kebanggaan tersebut (jika memang membanggakan). Bisakah aku berbangga pada apa yang tidak aku lakukan? Dengan lantang aku berkata TIDAK!! Namun masa-masa inilah yang menjadi sisa waktuku untuk berkarya, dan aku merasa beruntung sekaligus terpercaya (walaupun terpaksa) untuk memimpin (tepatnya mengelola) sebuah kelompok studi (agaknya istilah ini lebih membangkitkan semangat bahwa kita seharusnya terus belajar dan tetap belajar) bernama POINTER. Dari situlah aku belajar mengenal dunia, melalui POINTER aku mampu bergabung dalam SENAT MAHASISWA periode 2006-2007, pelajaran dan pengalaman, satu demi satu, aku terima dan aku serap, dengan semangat untuk mau terus dan tetap belajar, aku ingin mengembangkan diriku, menjadi sempurna walaupun tak sesempurna TUHAN. Masa-masa ini ingin aku manfaatkan untuk menorehkan keringat dalam membanggakan UBAYA, aku tak bisa berbangga hanya karena aku kuliah di universitas ber-akreditasi A (yang katanya bakal turun jadi B, peduli setan!), aku akan bangga jika aku ikut menjadikan UBAYA ber-akreditas A, namun sepertinya itu muluk bagiku yang sudah hampir menyelesaikan studi di UBAYA dengan pas-pasan, yang bisa aku lakukan saat ini adalah membawa nama UBAYA, PSIKOLOGI UBAYA melalui nama POINTER.

Sepertinya belum ada penyesalan setelah aku masuk ke (PSIKOLOGI) UBAYA. Satu-satunya hal yang aku sesalkan adalah keterlambatanku untuk (benar-benar) belajar. Dan penyesalan itu membuat aku tidak ingin cepat-cepat keluar dari (PSIKOLOGI) UBAYA karena aku merasa masih banyak hal (yang selama ini aku sia-siakan begitu saja) yang bisa aku peroleh dari (PSIKOLOGI) UBAYA. Satu hal yang aku pertanyakan: Sudah mampukah aku menggunakan keilmuanku untuk menganalisa fenomena yang ada di dalam kehidupan manusia? Jawaban idealnya adalah YA! Namun yang aku sadari betul adalah jawaban TIDAK! (atau BELUM!) Banyak materi perkuliahan yang aku lewatkan hingga aku lupakan sehingga tidak ada satupun yang (benar-benar) aku ingat, contohnya saja teori kepribadian JUNG, yang aku ingat hanya teorinya yang menyatakan bahwa kesadaran manusia terbagi menjadi dua, kesadaran personal dan kesadaran kolektif (titik), sudah hanya itu. Menyedihkan bukan!?

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s