Menolong Tanpa Pamrih

Aku bertanya-tanya, apakah konsep menolong tanpa pamrih ini benar-benar ada? ataukah itu hanya sekedar konsep impian? Tidak ilmiah memang jika aku mengatakan tanpa sebuah data yang mendukung bahwa hampir semua umat manusia di dunia memberikan pertolongan (mungkin) dengan pamrih, aku hanya mengira-ngira dan menduga, jika memang seseorang mengatakan “aku benar-benar ingin menolongmu dengan tulus”, secara tidak sadar ia (mungkin) mengharapkan bantuan timbal balik dari tertolong, atau (paling tidak) dalam hati kecilnya ia mengharapkan pertolongannya tersebut dapat ditukarkan dengan “berkat” dari TUHAN, pertolongan tersebut menjadi pahala baginya untuk bekal masuk sorga, atau menjadi satu bagian dalam dirinya yang bisa dijadikan pertimbangan agar dia masuk sorga.

Hal ini terlintas begitu saja dalam pikiranku setelah pagi tadi, baru saja, seseorang yang pernah mengembalikan STNK-ku datang kembali ke rumah untuk meminta (lagi) uang balas jasa. Sebenarnya ada cerita dibalik kembalinya orang tersebut, karena pada waktu orang tersebut mengembalikan STNK aku sedang berada di kampus maka yang menerimanya adalah adik-ku, ketika itu adik-ku memberikan sejumlah uang yang tidak sesuai dengan yang diinginkan orang tersebut dan akhirnya adik-ku meminta orang tersebut untuk kembali lagi karena yang dia punya hanya sejumlah uang tersebut. Nah, pagi inilah orang tersebut datang lagi ke rumah kami, dengan mengatakan bahwa orang yang menemukan STNK tersebut (saudara dari orang yang mengembalikan STNK) sedang mengalami musibah dan membutuhkan sejumlah uang. Dan hasil akhirnya adalah.. Orang tersebut tidak mendapatkan uang sepeserpun.

Dari cerita singkat di atas, ada dua hal yang (sebenarnya) bisa diangkat. Pertama, pertolongan identik dengan pemberian balas jasa. Kedua, ketidakpedulian terhadap orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Walaupun judul tulisan ini adalah Menolong Tanpa Pamrih, aku ingin membahas poin kedua terlebih dahulu. Aku heran, orang tersebut sedang membutuhkan pertolongan bagi saudaranya yang terkena musibah namun tak seorangpun di keluargaku berpikiran untuk menolongnya, mereka merasa bahwa urusan yang sudah selesai ya sudah selesai, apapun yang terjadi padamu kami tidak peduli. Aku jadi berpikir, bukankah menolong orang lain itu perlu untuk dilakukan, terlepas dari identitas orang tersebut dikenal oleh penolong atau tidak, kecuali jika orang tersebut membutuhkan pertolongan karena dikejar petugas keamanan, sebaiknya laporkan orang tersebut atau anda kena imbasnya. Waa, ternyata nyambung juga dengan topiknya, dari sana aku (baru saja) berpikir, dugaanku.. tidak ada orang yang mau menolong orang lain tanpa pamrih. Nyambung ke poin pertama tadi, kebanyakan orang yang telah membantu orang lain meminta balas jasa terhadap pertolongannya tersebut, entah berupa materi (biasanya uang) atau pertolongan timbal balik atau pahala. Lagi-lagi aku tidak bisa memberikan data terhadap kalimat di atas sehingga itu hanya menjadi sebuah common sense belaka, walaupun begitu semoga tulisan ini memberikan inspirasi bagi anda bahwa pertolongan seharusnya tanpa pamrih.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s