Rasisme: Sejarah dan Refleksi

Nyambung pembicaraan dengan adikku, kali ini mau membahas soal rasisme, one of my interest view :-D Pertanyaanku adalah: “apakah rasisme bisa hilang?” Hipotesisku adalah: “bisa asal manusia juga hilang (punah)” Hal itu sama dengan pertanyaan: “apakah konflik bisa hilang?” Dosen sosiologiku menjawab: “konflik hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat” Intinya selama manusia masih hidup di muka bumi, konflik dan rasisme akan selalu ada di muka bumi.

Hal tersebut membuatku berpikir, “bahkan agama pun, yang notabene paling kuat melekat dalam hidup manusia, tidak bisa menghilangkan rasisme” Sejak aku berpikir seperti itu, aku tidak lagi percaya akan agama, namun bukan berarti aku tidak ber-TUHAN, it’s really different! Waa..kayaknya mulai melenceng nih, kembali lagi yah :-D

Menurut sumber yang aku baca rasisme mulai dikenal pada tahun 1930, yang digunakan untuk menggambarkan pembantaian yang dilakukan oleh Nazi kepada orang Yahudi. Namun jauh sebelum masa itu rasisme sudah ada, hanya saja istilah rasisme belum dilekatkan. Menurut M Fredrickson, sejarah awal rasisme dapat ditelusuri dari Spanyol, pada abad 12 sampai 13 pengikut Islam, Yahudi, dan Kristen bisa hidup berdampingan tapi di akhir abab 14 dan awal 15 timbulnya konflik dengan orang Moor memercikkan diskriminasi terhadap Islam dan Yahudi. Di sini tampak kebencian yang bersifat sektarian lalu menjadi kebencian yang bersifat rasial dalam bentuk pengusiran. Setelah Spanyol dibersihkan dari orang-orang Yahudi dan Moor, kemudian mulai menjajah “dunia baru” (Amerika) dan menemukan jenis perbedaan baru orang-orang primitif dan yang kurang beradab. Kemudian muncul pemikiran bahwa pembauran dengan orang-orang primitif dan yang kurang beradab itu dirasa sebagai sesuatu yang mustahil. Karena itulah, keyakinan sebagai bangsa yang unggul berkembang dengan bentuk merasialisasikan orang-orang yang tidak beradab dan terbelakang sebagai budak. Begitulah kata Nur Mursidi dalam tulisannya Menelusuri Jejak Rasisme.

Keangkuhan manusia membuat mereka buta atau tidak mau peduli bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan sama, sederajat, sepangkat, dan se.. se.. lainnya. Manusia tidak bisa menentukan untuk terlahir seperti apa, semua itu adalah rancangan TUHAN, namun keangkuhan manusia membuat mereka mengkotak-kotakkan manusia lain yang dianggap “rendah”. Aku setuju dengan pernyataan Nur Marsidi, “bentuk fisik dan warna kulit manusia adalah hak prerogatif TUHAN yang tidak bisa ditolak, sebaliknya keragaman dan perbedaan harus dipahami sebagai kemajemukan bukan menunjukkan superioritas sebab semua manusia diciptakan TUHAN setara dan dianugerahi hak-hak individu yang berasal dari alam dan akal.” Semoga impian untuk bebas dari rasisme bisa terwujud ataukah memang manusia harus punah terlebih dahulu untuk bebas dari rasisme.

8 thoughts on “Rasisme: Sejarah dan Refleksi

  1. waduh, sori deh. salah manggil niy. ha5… sori yah ko…

    aku bingung tapi kalo mau ambil tema itu. mending pake teme sendiri. tapi nggak jau2 dari rasisme. soalnya aku ngeliat kehidupan saat ini semakin gimana gitu. he5… jadinya cari yang pas sesuai dengan isi kepalaku aja d. ^_^

    tp thx bgt yah. ho5…

  2. G’ bakal hilang selama belum ada musuh bersama (Eropa bersatu waktu diancam bangsa luar, perang sendiri2 setelah damai). Jadi nunggu ada alien datang :) (meskipun selama ini 100% spesies yang ditemui manusia justru dijajah oleh manusia)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s