Citra Laki-Laki: Sebuah Pemikiran

Ada apa dengan Citra Laki-Laki ? Dari buku yang aku baca (sebagian, emm.. bahkan hanya halaman depannya saja, hehe.. judul bukunya “Men’s Live“) ditemukan bahwa laki-laki sedang mengalami kebingunan dalam mencitrakan dirinya. Apakah yang harus dilakukan laki-laki agar dapat dikatakan sebagai laki-laki ? Apakah dengan tidak melakukan “yang seharusnya” laki-laki tidak diakui sebagai laki-laki ?

Konstruksi sosial sering kali berpengaruh dalam kehidupan manusia, tak peduli laki-laki atau perempuan, orang dewasa atau anak-anak, Jawa atau Cina, Islam atau Katholik, siapapun manusia dengan atribut sosial apapun pasti terpengaruh oleh konstruksi sosial. Misalnya saja, baiknya perempuan bekerja pada sektor domestik ketimbang publik dan sebaliknya laki-laki bekerja pada sektor publik ketimbang domestik. Padahal baik perempuan maupun laki-laki memiliki kebebasan untuk memilih bekerja pada sektor publik atau domestik, tetapi konstruksi sosial membatasi perempuan pada sektor domestik dan laki-laki pada sektor publik, seolah-olah jika ada perempuan bekerja pada sektor publik dan sebaliknya laki-laki pada sektor domestik itu dianggap abnormal. Seperti yang pernah diceritakan Ibu Arti (dosen pembimbing salah satu mata kuliah ajar di FaPsi Ubaya), dia dikatai tetangganya sebagai ibu yang tidak waras karena menghabiskan banyak waktu dalam karirnya ketimbang keluarga. Contoh di atas membuktikan bahwa konstruksi sosial kuat mempengaruhi hidup manusia, entah dalam ranah kognitif, afektif atau konatif.

Dalam konstruksi sosialnya laki-laki harus menjadi entitas yang tangguh, yang mampu menghadapi segala bentuk kesulitan duniawi dengan kemampuannya sendiri, laki-laki harus mandiri, tidak boleh cengeng, merengek apalagi menangis, laki-laki harus menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah untuk seluruh keluarga, laki-laki harus mampu memimpin keluarganya, menjadi panutan, dan berbagai keharusan lainnya. Pertanyaanku adalah apakah semua laki-laki ingin menjadi seperti yang diharuskan tersebut ? Jika ada yang menjawab tidak, pertanyaan selanjutnya adalah apakah mereka yang tidak melakukan yang seharusnya masih menganggap dirinya sebagai laki-laki, apakah yang mempengaruhi anggapan tersebut (tentunya selain memiliki penis) ?

Karena pemikiran ini nantinya akan menjadi topik P3 (Penyusunan Proposal Penelitian) ku, pada akhir penelitian ini aku ingin menemukan jawaban “siapakah laki-laki”, yang mengandung pemaknaan laki-laki terhadap ke’laki-laki’an nya baik secara fisik maupun sosial, aku ingin menemukan esensi laki-laki.

3 thoughts on “Citra Laki-Laki: Sebuah Pemikiran

  1. wah2… tulisan2nya keren2. ho5… uda gitu banyak yang ditulis tu nggak cuman common sense. banyak tulisan2 yang berasal dari sumber2 yang jelas. nggak kaya aku. he5…

    TOP d.

    tapi kalo bilang kirim tulisan aku, kirimya ke mana? aku juga nggak pede dengan hasil2 tulisan aku. T.T

    soalnya menurut aku kalo aku nulis tu karena aku mang suka nulis. tapi aku nggak yakin hasil tulisanku bisa di terima orang laen…

  2. Wah-wah-wah tipe laki-laki ini yang aku kagumi, bisa memaknai realitas yang sesungguhnya. walau laki-laki tapi pro perempuan. Ya, iyalah laki-laki dan perempuan yang membedakan hanya melahirkan, haid, menyusui dan hamil. semuanya bisa kok dipertukarkan, dan untuk memperoleh citra yang setara maka keduanya harus bisa berjalan seimbang. aku support kok dengan rencana penelitiannya. by!

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s