Tempat Ini, ‘Rumah’ Keduaku

Tulisan pertamaku di WordPress nih, hehehe.. :)

Tulisan ini terinspirasi oleh pertanyaan seorang kawan, “jika aku sudah lulus nanti, akankah aku kangen dengan tempat ini?” (Identitas “tempat ini” sengaja tidak diberitahukan untuk menjaga privacy. Adie). Aku pun jadi berpikir, “iya ya, kayaknya aku bakalan kangen dengan tempat ini, dengan semua kehidupan yang ada di sana.” Sejujurnya, tempat ini merupakan rumah kedua bagiku (dan mungkin juga bagi semua penghuni lain dari tempat itu. Adie), tempat dimana aku merasa nyaman, tempat dimana aku bisa mengaktualisasikan diriku, tempat dimana aku berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, tempat dimana aku terus belajar menghadapi kehidupan, tempat dimana aku berbagi suka dan duka, bahkan tempat dimana aku tidur dan makan (hehehe. Adie), dan aku sungguh tak mampu meninggalkan tempat ini, aku sudah terlalu terikat dengannya, tiada hari tanpanya. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul dalam pikiranku, “apakah keterikatanku dengan tempat ini terlalu berlebihan? apakah keterikatanku tersebut bisa menghambatku untuk maju, jika terlepas dari tempat ini?” Aku khawatir hal tersebut terjadi.

Aku tak memungkiri jika aku tak ingin meninggalkan tempat ini namun aku harus, karena kehidupanku yang sebenarnya adalah di luar tempat ini, terlepas darinya. Sewajarnya aku tahu bahwa tempat ini hanyalah wadah bagiku untuk menyalurkan minat, wadah untuk belajar, wadah untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang sebenarnya, namun kewajaran tersebut seolah-olah tertutupi oleh keterikatan yang berlebihan dengan tempat ini, fungsi yang diberikan berubah dari hanya sebuah wadah menjadi rumah kedua. Ya, tempat ini yang dahulu hanya wadah bagiku kini menjadi rumah kedua, bahkan aku merasa lebih nyaman berada di tempat ini daripada di rumahku sendiri, suasana fisiknya memang tak terlalu higienis (ops, maaf ya jujur! hehehe. Adie) namun interaksi antar orang di dalamnya terasa menyenangkan, walaupun tak dipungkiri juga banyak konflik di dalamnya (rek.. ayo donk pada terbuka! aku tahu kamu itu “keras” namun apa salahnya “melunak” barang sedikit saja. takut harga diri runtuh? pentingkah harga diri ketimbang pertemanan kita di tempat ini? bawa saja dirimu dan harga dirimu, lalu ceburkanlah ke laut, kamu tak pantas menikmati pertemanan ini. Adie).

Sekarang saatnya merenungkan pernyataan ini, “jika aku tak lagi di tempat ini.” Aku pasti merindukannya, merindukan orang-orang di dalamnya, merindukan masa-masa yang telah terlewati, merindukan segala sesuatunya, bahkan merindukan “dia” yang pernah bersarang di hatiku (ihi.. sapa tuh? aku harap kamu merasa tanpa aku mengatakannya, seperti kata seorang kawan lainnya, “bahasa itu miskin!“, dari setiap perhatian kecil lah aku menunjukkannya, semoga kamu sadar, hehehe. Adie). Namun aku harus mampu terlepas dari tempat ini, bukan berpisah namun hanya terlepas, untuk mengejar cita-citaku, untuk mencari masa depan yang lebih baik. Dan hingga pada waktunya, aku akan kembali pada tempat ini, mengenang semuanya.

Untuk tempat ini, terima kasih untuk semuanya! :)

3 thoughts on “Tempat Ini, ‘Rumah’ Keduaku

  1. hmm… that’s my dilemma… sampe lulus pun akhirnya ga bisa lepas dr “tempat ini”. Tapi menurutku yg penting mind set qta aja. I’m okay eventhough i’m far away from this place…
    Selama qta tidak terkurung di dalamnya it’s okay kayaknya. Rumah kedua ini akan selalu menjadi tempat yg “aman” bagiku, sehinga jika di kala aq merantau keluar “rumah”, aku tau bahwa akan selalu ada tempat yang menerimaku…

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s