Kesadaran Manusia menurut Integrated Information Theory


Latar Belakang

Baru-baru ini saya merasa kangen dengan bahasan mengenai kesadaran manusia. Iseng-iseng saya coba mencari bahan bacaan yang paling update di Google Scholar. Saya menemukan sebuah jurnal penelitian yang judulnya menarik perhatian saya, “Consciousness: here, there, and everywhere?”, oleh Tononi & Koch (2015).

I know I am conscious: I am seeing, hearing, feeling something here, inside my own head. But, is consciousness–subjective experience–also there, not only in other people’s head, but also in the head of animals? And, perhaps everywhere, pervading the cosmos, as in old panpsychist traditions and in The Beatles’ song?

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan Tononi & Koch mengenai posisi (dimensi ruang) kesadaran manusia, seperti tertulis dalam pernyataan di atas. Mereka tahu bahwa kegelisahan tersebut tidak mungkin dijawab oleh ilmu pengetahuan “mindstream”–yang memiliki batasan logika berpikir. Mau berusaha sekeras apapun, pendekatan tersebut hampir mustahil bisa mengurai benang ruwet dalam bahasan tentang kesadaran manusia (Tononi & Koch, 2015).

The problem of explaining how matter can give rise to consciousness may forever elude us, dubbing it the hard problem–the problem may be not only hard, but also almost impossible to solve.

Akan tetapi itu tidak membuat mereka patah arang. Tononi & Koch (2015) menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam usaha memahami kesadaran manusia, dan itu menuntut kita untuk sedia mengambil sudut pandang yang berkebalikan dari pendekatan “mindstream”. Caranya dengan mengalihkan fokus pada hal-hal yang ada di dalam kesadaran itu sendiri, bukan hal-hal yang ada di luaran, berdasarkan Integrated Information Theory (IIT)

But things may be less hard if one takes the opposite approach: start from consciousness itself, by identifying its essential properties, and then ask what kinds of physical mechanisms could possibly accout for them. This is the approach taken by Integrated Information Theory (IIT).

Apa itu IIT?

Saya tidak sedang ingin menjelaskan secara panjang lebar mengenai IIT. Artikel ini saya tulis untuk menyampaikan abstraksi saya setelah membaca jurnal penelitian Kononi & Koch “Consciousness: here, there, and everywhere?” (2015). Akan tetapi, agar saya bisa sedikit membantu anda untuk tahu tentang IIT, silahkan lihat gambar di bawah ini, atau anda bisa berkunjung ke tautan ini untuk informasi lebih lanjut.


Sebelum hasil abstraksi saya dipaparkan dalam artikel ini, ada baiknya saya menyebutkan terlebih dahulu temuan-temuan dalam jurnal penelitian Kononi & Koch (2015) tersebut. Mereka mencatat ada 8 (delapan) poin temuan berdasarkan kajian IIT, yang di bawah ini saya tulis ulang sesuai bahasa aslinya tanpa deskripsi.

  1. Consciousness is a fundamental property
  2. Consciousness comes in various qualities
  3. Consciousness is adaptive
  4. Consciousness is graded
  5. Consciousness can have multiple systems
  6. Aggregates are not conscious
  7. Complicated systems can be unconscious
  8. Simulations of concious neural system can be unconscious

Secara garis besar, Tononi & Koch (2015) menemukan bahwa kesadaran manusia dapat di-analisis lewat pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Analisa dilakukan dengan memperhatikan 5 (lima) axioms (beserta postulates-nya) dari IIT, antara lain: existence, composition, information, integration, dan exclusion–yang terdapat dalam pengalaman seseorang. Idealnya, kelima axioms tersebut memiliki prinsip: essential, complete, consistent, dan independent. Analisis IIT terhadap berbagai pengalaman seseorang menjadi landasan terbentuknya core concept, conceptual structure, complex, dan quale dalam diri manusia. Semua itu terangkai menjadi sebuah mekanisme sistem yang akan mempengaruhi kondisi tertentu dari kesadaran manusia.

Abstraksi Saya

Kesadaran manusia terbentuk lewat serangkaian pengalaman pribadi yang terjadi sepanjang hidup: sejak seseorang berada dalam kandungan hingga sebelum kematian. Dari banyaknya pengalaman tersebut, semuanya tersimpan dalam memori. Akan tetapi, tidak semua memori dapat diingat kembali, dan hanya sedikit yang bisa diingat secara detil. Biasanya, kebanyakan orang hanya berhasil mengingat pengalaman-pengalaman yang mempengaruhi kehidupannya secara signifikan.

Lewat ingatan tadi seseorang membangun penghayatan pribadi terhadap berbagai pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Penghayatan pribadi itulah yang akan di-sintesis-kan menjadi kesadaran, dengan memenuhi 5 (lima) kriteria, antara lain:

  1. Subjektif. Artinya, penghayatan tersebut merupakan buah pemikiran dan perasaan seseorang dari berbagai pengalaman hidupnya yang tidak bisa lepas dari belief yang dimilikinya.
  2. Rangkaian pengalaman. Artinya, penghayatan tersebut memerlukan sejumlah pengalaman yang memiliki keterkaitan tema, dan saling memberikan pengaruh satu sama lain terhadap kehidupan seseorang.
  3. Unik. Artinya, penghayatan tersebut dilakukan terhadap pengalaman-pengalaman yang berkesan bagi seseorang, baik secara kualitas (intensitas) maupun kuantitas (frekuensi).
  4. Punya “kompleksitas” tersendiri. Artinya, penghayatan tersebut bisa mengandung kesederhanaan maupun kerumitan yang bergantung pada penilaian masing-masing orang terhadap berbagai pengalaman hidupnya.
  5. Kontekstual. Artinya, penghayatan tersebut memiliki batasan ruang dan waktu, serta batasan nilai dan norma, yang disesuaikan dengan kondisi seseorang di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berdasarkan kelima kriteria di atas, saya berasumsi bahwa kesadaran manusia (menurut IIT) bersifat permanen, sekaligus dinamis. Sifatnya permanen karena kesadaran tersebut relatif menetap dalam diri seseorang dan turut mempengaruhi setiap aspek kehidupannya. Sifatnya dinamis karena kesadaran tersebut menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di luar maupun di dalam diri seseorang sepanjang hidupnya.

Salam

    Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (Asset-Based Community Development): Sebuah Refleksi Hasil Belajar

    LATAR BELAKANG

    Saya berkenalan dengan pendekatan ini pada tahun 2013. Kala itu saya sedang mendampingi komunitas Karang Taruna RW 07, 08, 09, dan 10 di Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari proyek jangka pendek (special project) sebuah LSM yang berfokus pada kesejahteraan anak (child well-being), yaitu Wahana Visi Indonesia–yang merupakan bagian dari NGO bernama World Vision International–disingkat WVI. Proyek ini berjangka pendek karena waktu pelaksanaannya (mulai asesmen, intervensi, hingga evaluasi) hanya 2 tahun.

    Saya bukan bagian dari WVI, saya mewakili salah satu dari tiga perguruan tinggi di Surabaya (Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional) yang bermitra dengan WVI untuk mengerjakan special project tersebut. Ketiga perguruan tinggi ini memiliki fokus isunya masing-masing: Urban Farming, Anak Usia Dini, dan Anak Remaja. Saya dan tim berfokus pada isu Anak Remaja, oleh karena itu kami memilih Karang Taruna sebagai sasaran komunitas dampingan.

    Pada saat kami merancang konsep pendampingan, salah satu supervisor saya (N.K.E. Triwijati) menawarkan konsep ABCD (Asset-Based Community Development) sebagai pendekatan yang akan kami gunakan selama mendampingi komunitas Karang Taruna tersebut. Konsep ABCD yang kami gunakan mengacu pada panduan yang diterbitkan oleh Program ACCESS tahap II dari Pemerintah Australia, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Panduan tersebut bisa diakses secara online dan bisa diunduh oleh siapapun.

    Setelah proyek tersebut selesai di tahun 2015, saya di-rekrut menjadi salah satu relawan sebuah LSM di Surabaya yang berfokus pada isu kekerasan terhadap perempuan–Savy Amira WCC, sebagai pendamping komunitas (Community Organizing/CO). Program pendampingan komunitas baru dimunculkan oleh Savy Amira WCC pada tahun 2012, mengikuti arahan program nasional yang dinamakan Maju Perempuan Indonesia untuk Pemberantasan Kemiskinan (MAMPU), karena Savy Amira WCC termasuk salah satu anggota Forum Pengada Layanan (FPL) untuk aksi pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dalam Program MAMPU tersebut.

    Komunitas yang kami dampingi, yaitu PKK RW 10 Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Kami menerapkan pendekatan ABCD yang di-modifikasi selama proses pendampingan. Modifikasi tersebut merupakan bentuk penyesuaian prinsip-prinsip dalam konsep ABCD, yang diterbitkan oleh Program ACCESS II Pemerintah Australia, terhadap kekritisan isu kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dalam perjalanannya, sasaran komunitas dampingan kami mengerucut sekaligus meluas; mengerucut pada Kader PKK dalam urusan Pos Curhat, dan meluas dari RW 10 menjadi Kelurahan Pacar Keling (saat ini muncul wacana untuk memperluas sasaran hingga tingkat Kecamatan Tambaksari). Pengerucutan dan perluasan sasaran tersebut, bisa dikatakan, merupakan salah satu dampak dari penerapan pendekatan ABCD yang di-modifikasi tadi.

    Di tengah proses penerapan pendekatan ABCD yang di-modifikasi tersebut pada komunitas PKK RW 10 Pacar Keling, di akhir tahun 2015, kami dipertemukan dengan rekan-rekan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, yang ternyata juga menerapkan pendekatan ABCD dalam Program Pengabdian pada Masyarakat (PPM) di kampusnya. Awalnya, saya mengira bahwa konsep ABCD yang dijadikan acuan oleh UINSA “berkiblat” pada COADY (Kanada); dikarenakan adanya perbedaan alur dalam beberapa tahapan ABCD yang mereka terapkan selama ini. Pada pertengahan tahun 2016, mereka mengajak saya ikut serta dalam seminar & workshop tentang ABCD dalam rangka konferensi internasional bertemakan “University-Community Engagement” (UCE IC) yang diselenggarakan oleh UINSA. Keikutsertaan saya dalam UCE IC tersebut mengubah anggapan saya sebelumnya mengenai “kiblat” konsep ABCD yang diterapkan rekan-rekan UINSA; karena salah satu pemateri yang berbagi pengalamannya menggunakan pendekatan ABCD berasal dari Jeder Institute Australia (Dee Brook).

    Berdasarkan pengalaman saya di atas, pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip dalam pendekatan ABCD antara ACCESS II dan COADY adalah SAMA; meskipun keduanya memiliki perbedaan dalam hal teknis. Simpulan saya mengenai prinsip-prinsip ABCD itulah yang akan saya bagikan setelah ini. Maka dari itu, ijinkan saya mencukupkan cerita latar belakang ini (artikel ini memang tidak saya buat untuk menceritakan detil pengalaman saya menerapkan pendekatan ABCD dalam pendampingan komunitas), dan mari beralih pada pemaparan prinsip-prinsip ABCD.

    Baca lebih lanjut

    Refleksi tentang Perubahan dan Adaptasi sepanjang Lima Bulan Terakhir

    Ternyata “penyakit” malas saya belum sembuh. Sejak tulisan terakhir saya di blog ini lima bulan lalu belum juga ada satu tulisan pun yang saya buat. Hingga sekarang saya tergerak untuk menulis. Meskipun tidak ada ide mengenai isu yang hendak saya tulis.

    Ada beberapa perubahan kondisi yang saya alami selama lima bulan terakhir. Pertama, saya sudah yudisium untuk gelar magister sains psikologi. Kedua, saya sudah resmi menikah. Ketiga, saya menjadi tenaga dosen kontrak di sebuah universitas swasta di Surabaya. Dan keempat, saya sedang menekuni profesi sebagai pendamping komunitas di lingkungan perkotaan.

    Perubahan kondisi di atas membuat saya perlu beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan yang hidup di dalamnya. Sebagai suami, saya perlu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki istri, dengan kepribadian-sifatnya, serta kebiasaan-perilakunya. Sebagai dosen dan pendamping komunitas, saya perlu meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri sehingga menjadi lebih mampu dan terampil. Secara keseluruhan, saya melatih diri untuk menjadi lebih kredibel, dalam peran sebagai suami, dosen, dan pendamping komunitas.

    Perubahan dan proses adaptasinya merupakan hal yang tidak mudah untuk dijalani. Ada hal-hal yang perlu “dikorbankan”, yang perlu “diadakan”, dan yang perlu “dikembangkan”. Semua itu membutuhkan enerji dan semangat tambahan, yang tidak jarang memunculkan reaksi-reaksi yang emosional–setidaknya ada rasa kecewa, marah, sedih, senang, puas, penasaran, dan takjub. Tetapi saya bersyukur masih bisa bersyukur, baik dalam kondisi penuh tekanan maupun yang minim tekanan. 

    Saya rasa, rasa syukur inilah pembangkit enerji saya. Melalui rasa syukur itu sumber daya enerji yang ada dinetralisir, dan diolah kembali menjadi enerji baru. Lalu, biasanya, rasa syukur itu diikuti oleh sikap yang berserah pada Tuhan. Saya menyadari  adanya keterbatasan di dalam usaha yang saya lakukan, dan saya mengijinkan keterbatasan itu dilengkapi oleh Tuhan–inilah sikap berserah pada Tuhan.

    Sekian!

    Religiusitas dalam Pandangan Psikologi

    Agama menjadi salah satu pranata sosial penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut nampak dari penilaian baik/buruknya perbuatan seseorang yang seringkali didasarkan pada norma agama. Jika seseorang melakukan perbuatan yang sesuai aturan-aturan agamanya, itu perbuatan baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan aturan-aturan agama, itu perbuatan buruk; bahkan kerap disebut sebagai perbuatan dosa.

    Dalam psikologi agama, kondisi kerberagamaan (tingkat religiusitas) seseorang dinilai berdasarkan beberapa aspek. Allport & Ross (1967) mengemukakan ada 2 aspek tingkat religiusitas seseorang, yang berkaitan dengan motivasi keberagamaan seseorang, yaitu ekstrinsik dan intrinsik. Ketika seseorang melakukan perilaku beragama karena harapan-harapan untuk mendapatkan pahala/karma baik, atau untuk menghindari hukuman/karma buruk, itu disebut religiusitas yang ekstrinsik. Sedangkan ketika seseorang melakukan perilaku beragama karena kesadaran bahwa dirinya adalah manifestasi ke-Tuhan-an di dunia, itu disebut religiusitas yang intrinsik. Perihal yang disebut terakhir, penulis menyadari akan perlunya pembahasan yang lebih mendalam tentang ke-Tuhan-an sehingga kita dapat memperoleh pemahaman yang jelas untuk menjadi “manifestasi ke-Tuhan-an di dunia”; sayangnya hal tersebut tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

    Selain ekstrinsik & intrinsik, Glock & Stark (1965) mengemukakan ada 5 aspek untuk menilai tingkat religiusitas seseorang, antara lain: 1) ideological (keyakinan agama), 2) intellectual (pengetahuan agama), 3) ritualistic (praktik keagamaan), 4) experiential (pengalaman spiritual), dan 5) consequential (implementasi keagamaan dalam keseharian). Kelima aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga kita tidak bisa menilai seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi/rendah berdasarkan salah satu aspek saja. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa seseorang memiliki tingkat religiusitas yang rendah karena semata-mata dia jarang menjalankan praktik keagamaan (sholat, kebaktian minggu, sembahyang, dsb), atau bahwa seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi karena semata-mata dia memiliki pengetahuan agama yang mumpuni.

    Penulis berpendapat bahwa aspek-aspek yang dipaparkan di atas tidak semestinya digunakan untuk sekedar menilai tingkat religiusitas seseorang, apalagi jika penilaian tersebut berujung pada pelabelan. Penulis memaknai religiusitas sebagai proses transformasi, dari religiusitas yang ekstrinsik menuju intrinsik. Selain itu juga sebagai proses sinkronisitas, dengan memadukan antara keyakinan agama, pengetahuan agama, praktik keagamaan, pengalaman spiritual & implementasi keagamaan dalam keseharian. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, aspek-aspek tersebut sepantasnya digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan & memberdayakan seseorang sehingga dirinya dapat mencapai kondisi religiusitas yang ideal. 

    Selamat Tahun Baru 2015

    Memang terlambat jika baru sekarang saya mengucapkan selamat tahun baru 2015 kepada para pembaca yang mengikuti tulisanku dalam blog ini maupun yang menemukannya melalui search engine, tapi abaikan saja kata terlambat karena ada pepatah yang mengatakan “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”; sayangnya pepatah itu tidak bisa jadi pembenaran ketika kita terlambat masuk kelas, karena dosen akan berkata “lebih baik keluar dari kelas saya sekarang juga daripada kamu mengulang semester depan”.

    Selamat Tahun Baru 2015. Nantikan tulisan-tulisan saya di tahun ini.

    Salam,
    Adi “Acong” Sujatmika

    Meditasi VS Doa

    Meditasi. Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar/membaca kata tersebut? Apakah bayangan yang muncul adalah orang sedang duduk dengan mata terpejam sambil berfokus pada satu hal? Jika kondisi itu yang terpikirkan, bermeditasi memiliki ciri-ciri sikap tubuh & pikiran yang mirip dengan berdoa, bukan? Lalu, apakah perbedaan dari bermeditasi & berdoa? Atau keduanya sama saja, hanya berbeda istilah?

    Bagi saya, yang baru menghidupi meditasi sejak 2012, keduanya hanya berbeda istilah. Pemaknaan tersebut sifatnya subjektif, itu muncul sebagai hasil dari proses saya bermeditasi. Orang lain punya anggapan yang berbeda, bahwa bermeditasi & berdoa itu berbeda. Dalam meditasi, seseorang mengambil sikap pikiran yang hening, fokus pada penajaman indera untuk menangkap sensasi fisik maupun metafisik, atau fokus pada penerimaan sensasi-sensasi tersebut selama prosesnya. Sedangkan dalam doa, seseorang cenderung banyak berucap, mengungkapkan segala uneg-uneg yang dimiliki kepada Tuhan, dapat berupa harapan, kekuatiran, dan sebagainya. Jadi, mana yang benar? Apakah bermeditasi & berdoa itu sama/beda?

    Saya berpendapat bahwa keduanya hanya berbeda istilah karena, meminjam pemahaman dari kebanyakan orang di atas, dalam bermeditasi saya juga berdoa & dalam berdoa saya juga bermeditasi. Dalam bermeditasi maupun berdoa, ada kalanya saya bersikap pasif (hening, mengamati, merasakan, menangkap, menerima, dll), juga ada kalanya saya bersikap aktif (berbicara, meminta, memohon, dll). Baik meditasi/doa, proses yang terjadi adalah bentuk komunikasi, antara diri & diri, juga antara diri & Tuhan, bahkan antara diri & ciptaan lain.

    Menurut pemahaman anda, bagaimana komunikasi itu berlangsung? Ada pembicara & pendengar, serta ada pesannya, bukan? Selain itu juga ada pergantian peran (pembicara jadi pendengar & pendengar jadi pembicara), dan pertukaran informasi, bukan? Dari beberapa hal di atas, hal apa yang paling penting dari komunikasi? Menurut saya, pesan. Ada komunikasi karena ada pesan, yang mau disampaikan/didengarkan. Lalu, bagaimana caranya pesan tersebut dapat tersampaikan/terdengar? Dari pengalaman saya, fleksibilitas dalam bersikap adalah kuncinya, menyadari kapan bersikap aktif (berbicara & menyampaikan), dan kapan bersikap pasif (diam & mendengarkan). Sekian.

    Salam,
    Adi Sujatmika

    Dalam Getir Kehidupan Selalu Terselip Pengalaman Manis

    Tahun 2014 sudah berjalan 7 bulan, dan dalam beberapa minggu akan memasuki bulan ke-8. Berbeda dari 2 tahun sebelumnya, hal-hal yang aku alami pada tahun ini cukup membuatku stress. Ada 2 hal besar; pertama, masalah finansial, dan kedua, masalah perkuliahan. Dua masalah yang sebelumnya tidak pernah membuatku stress.

    Masalah finansial yang aku alami sekarang berawal dari keputusanku untuk berhenti dari pekerjaan yang sudah aku geluti selama 9 tahun–sejak tahun 2005, yaitu pekerjaan dalam dunia pelatihan (seringnya berbentuk outbound training). Alasannya, agar aku bisa fokus untuk menyelesaikan studi–yang semester ini hanya tersisa tugas akhir (tesis); ironisnya, yang menjadi alasanku untuk berhenti bekerja juga mendatangkan persoalan tersendiri. Ketika aku memutuskan untuk berhenti bekerja, aku pun tidak lagi memiliki penghasilan–yang selama ini aku gunakan untuk membayar beberapa tanggungan pribadiku. Sesungguhnya, untuk mengantisipasi terjadinya hubungan sebab-akibat itu–jika tidak bekerja, tidak ada penghasilan, aku berencana untuk mencari sumber penghasilan lain dengan menerima tawaran proyek penelitian & pengabdian pada masyarakat dari dosen-dosen kampusku. Rencana itu sedang aku lakukan tetapi realisasinya tidak sepenuhnya seperti yang aku rencanakan; ada proyek-proyek yang pencairan honornya baru dilakukan beberapa bulan setelah proyek tersebut dilakukan, ada juga proyek yang masih dalam masa tunggu–menunggu keputusan dari pihak pertama.

    Ketika aku menjadikan studi sebagai alasan untuk berhenti bekerja, alasan tersebut juga mendatangkan persoalan tersendiri. Awalnya aku berencana untuk menyelesaikan studiku–yang hanya tersisa tugas akhir (tesis)–di semester ini tetapi, karena ada persoalan terkait setting penelitian, aku harus memperpanjang masa pengerjaan tugas akhir menjadi 2 semester; dengan kata lain, studiku baru selesai semester depan. Sebelum aku menghadapi hal tersebut, ada persoalan lain yang juga aku alami; aku harus mengganti topik penelitian, yang semula aku ingin meneliti tentang psikologi transpersonal, sekarang aku meneliti tentang kehidupan multikultur. Alhasil, aku harus melakukan beberapa kali pengambilan data ulang dengan setting penelitian yang berbeda; selain itu, aku juga harus membaca beragam sumber pustaka yang baru ketika berganti topil penelitian, sekaligus harus menulis proposal penelitian sesuai topik dan data baru yang aku temukan di lapangan.

    Namun 2014 tidak hanya menjadi tahun yang membuatku stress, tahun ini aku juga merasakan kebahagiaan karena, akhirnya, aku memiliki pasangan hidup. Itu merupakan salah satu harapanku yang tak kunjung terkabul sebelum 2014. Meskipun aku sudah berusaha mendekati beberapa perempuan yang aku sukai, tidak ada satu pun yang mau menerima niatku untuk menjadikan dia pasangan hidupku–dengan kata lain, aku ditolak oleh setiap perempuan yang aku dekati. Penolakan tersebut sampai membuatku merasa apatis dengan harapanku sendiri. Syukurlah harapanku terkabul tahun ini, 2014.

    Kesimpulannya.. dalam pengalaman pahit yang tidak sesuai harapan dan mendatangkan stress, ada pengalaman manis yang menetralisir getirnya. Sungguh.. Allah selalu menyediakan keseimbangan dalam hidup ciptaan-Nya. Syukur kepada Allah. Namaste.