Bom Waktu dalam Pilgub DKI Jakarta

Setelah sekian lama saya meninggalkan perkembangan informasi di media sosial, beberapa bulan belakangan saya kembali mengikuti linimasa saya di Twitter dengan cukup intens. Dari banyak kicauan yang di-twit oleh akun-akun yang saya follow—entah itu bentuknya kultwit, twitwar maupun yang sekedar curcol sampai bikin baper followers lainnya, ada beberapa topik kicauan yang menarik perhatian saya. Salah satunya, yang akan saya bahas dalam tulisan ini, mengenai pilgub DKI Jakarta.

 

FIRST, I TOLD YOU MY LIMITATION(S)

Sebelum saya masuk dalam inti pembahasan, saya perlu menekankan pada para pembaca bahwa saya membuat tulisan ini bukan dalam rangka kampanye. Saya juga tidak akan mengomentari program-program yang dijanjikan oleh ketiga pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta, maupun berkomentar tentang rekam jejak mereka. Saya punya alasan yang sangat kuat untuk tidak melakukan hal-hal yang saya sebutkan tadi, yaitu: saya bukan buzzer dari salah satu kubu. *nyengir*

Jika saya akan menulis tentang pilgub DKI Jakarta, tetapi tidak akan membahas hal-hal di atas, mungkin saat ini anda sedang bertanya-tanya: “lalu.. apa yang mau anda sampaikan lewat tulisan ini?”. Baca lebih lanjut

Selamat Tinggal 2016, Selamat Datang 2017 (Secuil Refleksi dan Resolusi dari Saya)

PEMBUKA

Well, kita sudah mendekati penghujung tahun 2016. Biasanya, momen-momen ini kental sekali dengan nuansa refleksi sepanjang tahun 2016 dan resolusi untuk tahun 2017. Oleh karena itu, rasanya kurang afdol jika saya tidak ikut-ikutan tren membuat refleksi dan resolusi tersebut. Setidaknya lumayan buat menambah postingan saya dalam blog ini (hehehehe).

Bagi saya, merefleksikan hal-hal yang sudah saya alami sepanjang tahun 2016, takbisa dilepaskan dari sebagian pengalaman saya di tahun-tahun sebelumnya. Itu bukan pendapat orisinil saya (saya hanya mengikuti ungkapan: apa yang kita alami saat ini dipengaruhi oleh tindakan-tindakan kita di masa lalu, dan tindakan-tindakan kita saat ini akan mempengaruhi hal-hal akan kita alami di masa depan); akan tetapi, saya mengalami sendiri kebenaran dari ungkapan tersebut sehingga saya pun mengafirmasinya. Selain itu, dari sudut pandang keyakinan agama saya, ungkapan itu sesuai dengan ajaran tabur-tuai; kesesuaian itu membuat saya pun makin yakin dalam mengafirmasinya.

Baca lebih lanjut

Kesadaran Manusia menurut Integrated Information Theory

Latar Belakang

Baru-baru ini saya merasa kangen dengan bahasan mengenai kesadaran manusia. Iseng-iseng saya coba mencari bahan bacaan yang paling update di Google Scholar. Saya menemukan sebuah jurnal penelitian yang judulnya menarik perhatian saya, “Consciousness: here, there, and everywhere?”, oleh Tononi & Koch (2015).

I know I am conscious: I am seeing, hearing, feeling something here, inside my own head. But, is consciousness–subjective experience–also there, not only in other people’s head, but also in the head of animals? And, perhaps everywhere, pervading the cosmos, as in old panpsychist traditions and in The Beatles’ song?

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan Tononi & Koch mengenai posisi (dimensi ruang) kesadaran manusia, seperti tertulis dalam pernyataan di atas. Mereka tahu bahwa kegelisahan tersebut tidak mungkin dijawab oleh ilmu pengetahuan “mindstream”–yang memiliki batasan logika berpikir. Mau berusaha sekeras apapun, pendekatan tersebut hampir mustahil bisa mengurai benang ruwet dalam bahasan tentang kesadaran manusia (Tononi & Koch, 2015).

The problem of explaining how matter can give rise to consciousness may forever elude us, dubbing it the hard problem–the problem may be not only hard, but also almost impossible to solve.

Baca lebih lanjut

Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (Asset-Based Community Development): Sebuah Refleksi Hasil Belajar

LATAR BELAKANG

Saya berkenalan dengan pendekatan ini pada tahun 2013. Kala itu saya sedang mendampingi komunitas Karang Taruna RW 07, 08, 09, dan 10 di Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari proyek jangka pendek (special project) sebuah LSM yang berfokus pada kesejahteraan anak (child well-being), yaitu Wahana Visi Indonesia–yang merupakan bagian dari NGO bernama World Vision International–disingkat WVI. Proyek ini berjangka pendek karena waktu pelaksanaannya (mulai asesmen, intervensi, hingga evaluasi) hanya 2 tahun.

Saya bukan bagian dari WVI, saya mewakili salah satu dari tiga perguruan tinggi di Surabaya (Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional) yang bermitra dengan WVI untuk mengerjakan special project tersebut. Ketiga perguruan tinggi ini memiliki fokus isunya masing-masing: Urban Farming, Anak Usia Dini, dan Anak Remaja. Saya dan tim berfokus pada isu Anak Remaja, oleh karena itu kami memilih Karang Taruna sebagai sasaran komunitas dampingan.  Baca lebih lanjut